Tanda Wibawa (Jelajah PB 634)

1 Korintus 11:11-16

Di dalam Tuhan tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Masing-masing seharusnya menerima kondisinya dengan hati yang tulus. Setelah manusia berkembang biak, kita bisa melihat memang bahwa perempuan berasal dari laki-laki dan laki-laki pun dilahirkan oleh perempuan. Tetapi kita juga harus ingat bahwa semuanya itu berasal dari Tuhan. Artinya, tidak ada persoalan mengenai harkat dan martabat antara laki-laki dan perempuan. Tetapi masing-masing memiliki tugas dan fungsi, memiliki kodrat yang berbeda. Tuhan mengatur semuanya itu, terutama di dalam kehidupan berkeluarga dan berjemaat.

Selanjutnya Paulus juga menyatakan bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki jika ia berambut panjang. Hal ini juga membuktikan bahwa gambar Tuhan Yesus yang selama ini beredar di kalender dan terpajang di beberapa rumah, itu bukan gambar atau foto yang sesungguhnya. Tidak mungkin Tuhan Yesus melanggar firman yang diilhamkan-Nya sendiri. Sebagai orang Kristen, kita juga harus memahami semuanya ini. Jangan sampai kita menghinakan diri kita dengan cara berambut panjang. Apalagi saat ini bukan zaman ibadah simbolik, yang mengharuskan melakukan nazar dengan cara memanjangkan rambut. Berbeda dengan perempuan, justru menjadi kehormatan bagi dia jika berambut panjang. Sebab rambut diberikan kepada perempuan untuk menjadi penudung. Pada zaman sekarang lebih mudah. Jika memang karena penyakit atau karena hal-hal tertentu, perempuan menjadi gundul, ada rambut palsu yang bisa dipakai.

Saat ini, tidak ada keharusan perempuan untuk menggunakan penudung rambut seperti kerudung. Rambut saja sebenarnya sudah cukup untuk menjadi penudung bagi perempuan. Penudung atau rambut bagi perempuan itu adalah tanda wibawa. Itu sebenarnya hanya gambaran fisik. Yang lebih penting dari pada itu adalah sikap ketertundukan yang sungguh-sungguh. Perempuan-perempuan yang tunduk dan tenang, terpancarlah kewibawaannya. Perempuan seperti ini akan menjadi penolong yang baik bagi suaminya.

Kita ada keterpisahan antara gereja dengan kehidupan dunia ini. Jika kita hidup dalam jemaat, maka ketertundukan itu sangat penting. Apalagi ketertundukan itu akan menjadi contoh dan teladan juga bagi malaikat. Tetapi kalau di dunia kerja atau dunia sosial kemasyarakatan, perempuan bisa melakukan apa saja. Mereka bisa berkarier dengan bebas. Tetapi tetap saja, di dalam kehidupan rumah tangga dan di dalam jemaat, mereka tetap tunduk kepada suaminya. Suami istri itu sudah dalam satu kesatuan. Mereka satu daging. Harus berlaku istri tunduk kepada suaminya dan suami mengasihi istri. Istri bisa melakukan apa saja, tetapi harus seizin suaminya, demikian juga sebaliknya.

Mungkin bagi sebagian orang akan menjadi berat dalam memahami semuanya ini. Tetapi inilah yang dituliskan di dalam Alkitab dan nanti juga akan berkaitan dengan ayat-ayat yang lain. Ini bukan soal emansipasi. Ini juga bukan soal teologi feminis. Memang sudah banyak perjuangan yang dilakukan oleh perempuan untuk mendapatkan kesetaraan dengan laki-laki. Jika kita melihat dengan akal pikiran yang sehat, firman ini tidak membedakan soal harkat dan martabat antara laki-laki dan perempuan. Apa yang dinyatakan dalam firman ini adalah soal tunduk. Ini struktur yang diberikan oleh Tuhan kepada keluarga dan jemaat, supaya segala sesuatunya berjalan sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan. Ini pasti juga bukan buah pikiran Paulus, karena Paulus pasti mendapatkan ilham dari Tuhan untuk menuliskan surat ini.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *