Menilai dan Menghakimi (Jelajah PB 603)

1 Korintus 4:1-5

Paulus merendahkan hati dan mengatakan bahwa dia adalah hamba Kristus, yang kepadanya justru dipercayakan rahasia Tuhan. Rahasia itulah yang kemudian ditulis oleh Paulus dan masuk ke dalam Alkitab seperti pada saat ini. Saat ini, kita bisa menjadi hamba Kristus yang mengajarkan Alkitab yang telah ditulis oleh para nabi dan rasul. Kita bisa menjadi hamba Kristus di berbagai bidang, sesuai dengan apa yang sudah dipercayakan kepada kita. Siapa pun yang mau menjadi hamba Kristus, darinya akan dituntut untuk dapat dipercayai. Hamba Kristus harus melayani dengan tulus dan jujur, serta memiliki karakter yang dapat dipercaya.

Paulus juga menjelaskan mengenai menghakimi. Penghakiman tidak bisa dilakukan pada hal-hal yang subyektif. Kita tidak bisa menghakimi motivasi hidup orang lain. Kita juga tidak bisa menghakimi kasih seseorang. Kita juga tidak bisa menghakimi hasil pekerjaan seseorang. Semuanya itu relatif dan bersifat subyektif. Semua orang bisa berbeda dalam hal-hal tersebut ketika diminta untuk menilai atau menghakimi. Nanti, pada saat Tuhan Yesus datang, Dia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati setiap orang. Kita tidak bisa melihat dan mengetahui isi hati orang, sehingga semuanya itu tidak bisa dihakimi atau dinilai. Hanya Tuhan yang bisa menilai semuanya itu.

Yang bisa dinilai atau dihakimi adalah pengajaran seseorang. Jika ada orang yang melakukan pelanggaran atau dosa yang sudah diketahui oleh umum, itu bisa dihakimi. Jika ada orang melanggar peraturan negara atau duniawi, itu bisa dihakimi, karena ada dasar untuk menghakiminya. Jemaat pun bisa menegor atau melakukan penghakiman atas pelanggaran seseorang, karena itu bisa memalukan jemaat secara umum. Tetapi kalau pelanggaran itu terjadi di dalam hati, maka kita pun tidak bisa menghakimi, karena tidak ada dasar bagi kita untuk menghakimi. Segala sesuatu yang di dalam hati, hanya bisa diserahkan kepada Tuhan. Akan ada saatnya, sesuatu yang dilakukan secara tersembunyi, akan disingkapkan oleh Tuhan dan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Sesuatu yang bersifat subyektif, kita tidak bisa menghakimi. Itu adalah hak Tuhan untuk menghakiminya, pada saatnya nanti. Tetapi sesuatu yang bersifat pengajaran, itu kita bisa menghakiminya (atau menilainya). Di dalam 2 Timotius 4:2, dikatakan “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” Jika seseorang sudah melakukan pelanggaran atau dosa yang nyata, diketahui oleh masyarakat umum, maka jemaat berhak untuk menghakiminya. Tentang hal ini, nanti akan diterangkan di dalam 1 Korintus 5:12-13. Dosa kelihatan yang tidak ditegor, justru akan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Hal tersebut bisa mencemarkan jemaat itu sendiri. Akibatnya, jemaat tidak bisa lagi menjadi tiang penopang dan dasar kebenaran.

Gereja Anabaptis memiliki tradisi “disiplin gereja”. Orang-orang yang kedapatan berbuat dosa dan sudah diketahui oleh umum, mereka bisa mendapatkan disiplin gereja. Hal tersebut dilakukan tentu dengan tahapan-tahapan yang pernah disampaikan oleh Tuhan Yesus di dalam Matius 18:15-17. Demikian juga dengan pengajaran, harus dihakimi dan dinilai. Pengajaran memiliki kemungkinan terjadinya penyesatan. Supaya tidak terjadi penyesatan, maka setiap pengajaran harus memiliki dasar, yaitu Alkitab. Di dalam penafsiran Alkitab, kita perlu menggunakan kaidah-kaidah yang benar, supaya penafsiran itu menghasilkan pengajaran yang sesuai dengan konteks ayat-ayat tersebut. Kebenaran itu hanya satu, tidak pernah dua atau lebih. Karena itulah, kita perlu menilai setiap pengajaran yang kita pelajari atau kita dengar.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *