Roh Kudus Turun (Jelajah PB 398)

Kisah Para Rasul 2:1-13

Hari Pentakosta adalah hari kelima puluh sesudah hari Paskah (setelah tujuh kali Sabat). Di dalam Imamat 23 dan Ulangan 16, orang-orang Yahudi diperintahkan oleh Tuhan untuk memperingati turunnya hukum Taurat di gunung Sinai, sekaligus merayakan hari tuaian gandum pertama. Orang-orang Yahudi memiliki tiga hari penting yang harus mereka ikuti, mengharuskan semua laki-laki Yahudi yang sudah berumur dua belas tahun ke atas untuk datang ke Yerusalem, datang menyembah Tuhan di Bait Suci. Yang paling penting dari ketiga hari tersebut adalah hari Paskah, mengingatkan kepada mereka akan hari domba yang disembelih pada malam tanggal 14 bulan Nisan / Abib, sebelum mereka keluar dari perbudakan di Mesir di tanggal 15 bulan Nisan. Setelah itu, tujuh hari Sabat kemudian, mereka memperingati hari Pentakosta. Lima bulan kemudian, setelah Pentakosta, orang-orang Yahudi diperintahakan untuk memperingati hari Raya Pondok Daun (hari peresmian Tabernakel).

Di hari Pentakosta itu (pada saat Roh Kudus turun), ada orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit yang sedang berada di Yerusalem. Mereka adalah orang-orang Yahudi yang tidak lagi tinggal di Israel, tetapi sudah menetap di negara-negara lain di luar Israel. Mereka berasal dari berbagai bangsa, disebutkan di sana: Partia (Iran), Media, Elam, Mesopotamia (Irak), Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia, Frigia, Pamfilia, Mesir, Libia, Roma, Kreta dan Arab. Mereka orang-orang Yahudi perantauan yang sudah terbiasa menggunakan bahasa setempat sebagai bahasa sehari-hari mereka. Karena terlalu jauh untuk kembali ke tempat tinggal mereka, biasanya mereka tinggal di Yerusalem dari hari Paskah sampai Pentakosta.

Pada waktu itu, para murid yang berjumlah sekitar seratus dua puluh orang sedang berkumpul di Yerusalem. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana para murid itu duduk. Tampak juga kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Sebenarnya turun-Nya Roh Kudus tidak harus dengan peristiwa seperti itu. Tetapi ini terjadi supaya mereka bisa mendengar dan melihat apa yang sedang terjadi. Setelah itu mereka penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

Bahasa lain ini adalah bahasa yang dimengerti oleh manusia. Bahasa, di manapun juga pasti memiliki kaidah, meskipun sederhana. Ini bukan satu atau dua kata yang diucapkan berulang-ulang, yang jika diucapkan terkesan seperti mantra. Paling tidak, kaidah sebuah bahasa terdiri dari subyek, predikat dan obyek. Bukti bahwa bahasa yang dikatakan oleh para murid itu adalah bahasa manusia, orang-orang Yahudi yang sudah tinggal di luar negeri bisa mengerti bahasa itu.

Bahasa itu dipakai oleh Tuhan untuk menarik perhatian orang yang sedang berkumpul di Yerusalem pada waktu itu. Yang dikatakan oleh para murid dengan bahasa-bahasa lain itu adalah kesaksian tentang perbuatan-perbuatan besar yang telah dilakukan oleh Tuhan. Ini menggenapkan apa yang sudah dinubuatkan oleh nabi Yoel. Ini adalah peristiwa yang pernah disampaikan oleh Yohanes Pembaptis, yaitu Baptisan Roh Kudus. Meskipun peristiwa tersebut berlangsung dengan dahsyat, masih ada juga yang menyindir bahwa para murid itu sedang mabuk anggur manis.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *