Persidangan di Yerusalem (Jelajah PB 457)

Kisah Para Rasul 15:4-12

Ketika Paulus dan rombongan tiba di Yerusalem, mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua. Mereka menceriterakan tentang segala sesuatu yang telah dikerjakan oleh Tuhan melalui mereka. Di sana ada beberapa orang dari golongan Farisi yang sudah bertobat dan percaya kepada Yesus, mereka berkata: “Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.”

Masalah terjadi karena orang-orang Farisi yang sudah percaya itu menuntut orang-orang Kristen yang bukan Yahudi mau mengikuti hukum Musa, yang merupakan hukum untuk melakukan ibadah simbolik. Orang-orang Farisi ini merasa cukup berwibawa, sehingga mereka tidak mau duduk di dekat kaki para rasul untuk menerima pengajaran yang benar. Kekristenan hari ini bisa menjadi kacau, jika ada pemimpin dari umat lain dan menjadi Kristen, mereka tidak bisa meninggalkan secara total ajaran sebelumnya. Jika orang-orang tersebut tidak mau menerima ajaran yang baik dan benar, maka pengajaran kekristenan yang disampaikan akan menjadi campur aduk.

Seorang dukun yang menjadi Kristen, jika dia tidak mendapatkan pengajaran yang murni dari Alkitab, maka dia ada kemungkinan tetap mempraktikkan konsep-konsep perdukunan, tetapi dibalut dengan firman Tuhan. Hal-hal seperti ini yang sangat berbahaya. Terkesan sangat rohani, tetapi sebenarnya itu adalah pengajaran yang dicampuradukkan. Sama seperti orang-orang Farisi yang menjadi Kristen, mereka tidak mau menerima pengajaran dengan benar, sehingga mencampuradukkan kekristenan dengan adat istiadat Yahudi. Mereka menjadi pembantah pengajaran rasul. Mereka memasukan adat kebiasaan mereka pada kekristenan. Karena itulah mereka memaksa orang-orang Kristen non-Yahudi untuk mengikuti adat kebiasaan Yahudi.

Untungnya Paulus dan Barnabas sangat menentang hal ini. Mereka melakukan sidang, saling bertukar pikiran mengenai hal itu. Akhirnya Petrus berdiri dan berkata di dalam persidangan itu dengan menceriterakan pengalamannya ketika berada di rumah Kornelius. Itu adalah pengalaman dan penglihatan yang diberikan oleh Tuhan. Petrus menyimpulkan bahwa Tuhan mengenal hati setiap manusia. Orang-orang dari bangsa selain Yahudi juga mendapatkan karunia Roh Kudus. Tuhan tidak pernah mengadakan perbedaan antara orang Yahudi dengan non-Yahudi. Tuhan telah menerima orang non-Yahudi, tanpa mereka harus disunat. Yang penting hati mereka sudah bertobat dan percaya kepada Yesus.

Petrus juga mengatakan bahwa mereka tidak boleh meletakkan beban kepada orang-orang non-Yahudi, sedangkan nenek moyang orang Yahudi saja tidak sanggup untuk mengangkat beban itu. Beban itu semakin berat karena ada kecenderungan dari orang-orang Farisi dan ahli Taurat untuk menambahkan hukum, menjadi sangat detail. Orang-orang Yahudi pada zaman itu saja sangat sulit untuk melakukan semua aturan itu. Petrus lebih menekankan pada hukum kasih karunia Yesus Kristus.

Untuk menguatkan apa yang sudah dikatakan oleh Petrus, Paulus dan Barnabas juga menceriterakan semua tanda dan mujizat yang dilakukan oleh Tuhan dengan perantaraan mereka di tengah-tengah bangsa-bangsa lain. Bangsa-bangsa lain itu menerima keselamatan juga tanpa harus disunat.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *