Paulus Menetap di Korintus (Jelajah PB 472)

Kisah Para Rasul 18:6-13

Paulus memiliki waktu yang banyak untuk memberitakan Injil, ketika Silas dan Timotius juga datang di kota Korintus. Tetapi ternyata banyak orang-orang Yahudi yang memusuhi dan menghujat dia, ketika dia mengajarkan Injil. Karena itu, Paulus mengebaskan debu dari pakaiannya dan berkata kepada mereka: “Biarlah darahmu tertumpah ke atas kepalamu sendiri; aku bersih, tidak bersalah. Mulai dari sekarang aku akan pergi kepada bangsa-bangsa lain.”

Setelah itu Paulus keluar dari tempat itu dan pergi ke rumah seorang yang bernama Titius Yustus. Titius ini adalah orang bukan Yahudi yang beragama Yahudi, sehingga disebut sebagai orang yang beribadah kepada Allah. Rumah Titius berada di samping rumah ibadat orang Yahudi. Ternyata seseorang bernama Krispus, dia adalah kepala rumah ibadat itu (kepala sinagoge), menjadi percaya kepada Tuhan bersama-sama dengan seisi rumahnya. Banyak dari orang-orang Korintus yang mendengarkan pemberitaan yang disampaikan oleh Paulus. Mereka percaya dan memberi diri dibaptis.

Pada suatu malam, Tuhan memberikan penglihatan kepada Paulus. Dalam penglihatan tersebut, Tuhan berkata kepada Paulus supaya tidak takut dan terus memberitakan firman. Orang percaya tidak boleh berdiam diri. Mereka harus memberitakan Injil selama masih ada kesempatan. Tuhan berjanji akan menyertai setiap orang yang memberitakan Injil. Tuhan menyertai Paulus dan tidak ada seorang pun yang akan menjamah Paulus di Korintus. Sudah banyak orang yang percaya kepada Tuhan di kota Korintus. Tuhan mau supaya Paulus terus memberitakan Injil di Korintus. Injil harus disampaikan dengan tegas, supaya ada banyak orang yang diselamatkan.

Setelah mendapatkan penguatan dari penglihatan itu, Paulus tinggal di kota Korintus selama satu tahun enam bulan. Paulus tetap giat untuk mengajarkan kebenaran firman Tuhan di tengah-tengah orang Korintus yang sudah percaya kepada Tuhan. Tetapi setelah Galio menjadi gubernur di Akhaya, maka bangkitlah orang-orang Yahudi melawan Paulus dan membawa dia ke depan pengadilan. Sepertinya Galio memperlihatkan bahwa dia memihak kepada orang Yahudi, sehingga orang Yahudi berani melakukan sesuatu yang tidak baik. Mereka melihat ada peluang untuk melawan Paulus. Ketika pemerintah tidak tegas terhadap orang jahat, maka kejahatan akan segera bangkit. Hal ini terjadi sejak zaman dahulu kala hingga sekarang.

Orang-orang Yahudi menuduh Paulus dengan berkata bahwa Paulus telah berusaha meyakinkan orang untuk beribadah kepada Allah dengan jalan yang bertentangan dengan hukum Taurat. Sebenarnya kita tidak perlu mempermasalahkan keyakinan orang. Keyakinan seseorang adalah hak mereka sendiri. Kalau kita yakin bahwa apa yang kita percayai adalah benar, kita tidak perlu memaksakan kepercayaan kita kepada orang lain. Yang kita lakukan adalah menawarkan keyakinan kita dengan cara memberitakan Injil, bukan dengan cara memaksa orang untuk percaya.

Pengajaran yang tidak benar, akan selalu memakai kekuasaan duniawi untuk memaksakan orang lain yakin dengan pengajaran tersebut. Sedangkan pengajaran yang benar, tidak perlu memakai kekuasaan untuk meyakinkan orang lain. Pengajaran rohani tidak memerlukan kekuasaan dari pemerintahan duniawi.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *