Memberitakan Injil Dengan Kuasa (Jelajah PB 453)

Kisah Para Rasul 14:3-14

Paulus dan Barnabas tinggal beberapa waktu lamanya di Ikonium. Mereka mengajar dengan berani, karena mereka percaya kepada Tuhan. Memang, jika tidak terjadi masalah yang berarti, mereka akan tinggal lebih lama di suatu tempat. Mereka lakukan hal tersebut supaya bisa lebih leluasa dan lebih lama untuk membekali murid-murid yang ada di situ dengan banyak pengetahuan Injil. Tuhan juga menguatkan berita Injil yang mereka sampaikan dengan kuasa-kuasa mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat. Firman Tuhan masih bersifat lisan, sehingga Tuhan memperlengkapi rasul-Nya dengan tanda dan mujizat, untuk menguatkan apa yang mereka beritakan.

Orang-orang di kota itu terbelah menjadi dua golongan: ada yang memihak kepada orang Yahudi dan ada yang memihak kepada kedua rasul itu. Akhirnya orang-orang Yahudi dan orang-orang yang tidak mengenal Allah, bersama dengan para pemimpin mereka, menimbulkan suatu gerakan untuk menyiksa dan melempari kedua rasul itu dengan batu. Kita bisa melihat bahwa orang-orang jahat dan tidak memiliki pemikiran yang jernih, selalu melakukan tindakan kejahatan. Mereka tidak bisa melawan orang dengan argumentasi atau kebenaran, sehingga hanya bisa melakukan kekerasan fisik. Orang-orang seperti ini tidak segan-segan untuk melakukan hal yang sangat jahat, bahkan dengan menggunakan agama atau keyakinan mereka. Mereka melakukan itu dengan menyangka sedang berada di pihak yang benar. Jika kebenaran itu dinampakkan dengan kekerasan, maka dunia ini akan sangat mengerikan.

Setelah para rasul itu mengetahui niat jahat mereka, maka menyingkirlah mereka ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil. Di Listra, ada seseorang yang duduk saja. Kakinya lemah dan lumpuh sejak lahir dan belum pernah bisa berjalan. Ketika Paulus memberitakan Injil dan mengajar, dia duduk di sana untuk mendengarkan pengajaran tersebut. Hatinya menerima apa yang disampaikan oleh Paulus. Pada saat itulah Paulus menatap dia dan melihat, bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. Setelah itu Paulus berkata dengan suara nyaring: “Berdirilah tegak di atas kakimu!” Kemudian orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan ke sana ke mari.

Ketika orang banyak melihat apa yang telah dilakukan oleh Paulus, maka mereka berseru dalam bahasa Likaonia: “Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia.” Mereka melihat Paulus dan Barnabas sebagai dewa. Mereka pasti tidak pernah melihat dan membayangkan, ada orang yang sembuh seketika, meskipun tidak pernah berdiri atau berjalan sejak lahir. Tanpa disentuh, hanya berseru, orang tersebut bisa berdiri dan berjalan. Barnabas mereka sebut sebagai dewa Zeus dan Paulus disebut sebagai Hermes, karena ia yang berbicara.

Lalu datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan korban bersama-sama dengan orang banyak kepada kedua rasul itu. Sepertinya apa yang dilakukan oleh Paulus ini cepat menyebar, bahkan sampai ke luar kota. Mereka mempersiapkan segala sesuatu dengan tujuan ingin memberikan persembahan yang terbaik kepada kedua rasul itu. Mendengar semuanya itu, Barnabas dan Paulus mengoyakkan pakaiannya mereka, lalu terjun ke tengah-tengah orang banyak itu.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *