Imam Atas Diri Sendiri (Jelajah PB 499)

Kisah Para Rasul 23:15-22

Rencana dari komplotan orang Yahudi yang akan menghadang dan membunuh Paulus itu didengar dan diketahui oleh keponakan Paulus, anak saudara perempuan Paulus. Lalu keponakan Paulus itu datang ke markas da memberitahukan semua rencana orang Yahudi itu kepada Paulus. Lalu Paulus memanggil salah seorang perwira dan berkata kepada perwira tersebut, “Bawalah anak ini kepada kepala pasukan, karena ada sesuatu yang perlu diberitahukannya kepadanya.” Anak itu memberitahukan semua rencana komplotan orang Yahudi terhadap Paulus.

Tentu ini bukan kebetulan, ketika keponakan Paulus mendengar rencana jahat komplotan orang Yahudi tersebut. Tentu Tuhan telah menolong Paulus, supaya Paulus memiliki kesempatan untuk bersaksi di Roma, seperti yang telah disampaikan oleh Yesus pada saat bertemu dengan Paulus sebelumnya. Paulus sendiri tidak tahu bagaimana caranya untuk berangkat dari Yerusalem ke Roma. Paulus hanya mengikuti semua perjalanan peristiwa yang terjadi. Dia berserah penuh kepada Tuhan dan siap untuk melakukan apa saja yang dikehendaki oleh Tuhan.

Tuhan Yesus telah memilih dua belas rasul untuk menjadi saksi-Nya. Mereka telah melihat semua yang dikerjakan oleh Yesus. Mereka juga telah mendengar semua perkataan dan pengajaran Yesus. Satu orang telah berkhianat dan digantikan oleh Matias, yang juga telah melihat dan mendengar semua pengajaran Yesus. Tuhan Yesus kemudian memanggil satu orang lagi yang dijadikan rasul, yaitu Paulus. Paulus bukan saksi mata yang melihat kehidupan Yesus secara langsung atau mendengar pengajaran Yesus secara langsung. Paulus dipanggil menjadi rasul untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain dan untuk menjelaskan perubahan ibadah simbolik ke ibadah hakikat.

Rasul Paulus telah menjelaskan dengan baik semua perubahan ini di setiap suratnya. Dia menjelaskan dan mengajarkan semua itu dengan baik. Pengajarannya itu sangat menyakitkan hati orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi jelas sangat tidak suka dengan apa yang diajarkan oleh Paulus. Kemungkinan besar jemaat di Yerusalem justru menggabungkan antara ibadah hakikat dengan ibadah simbolik. Mereka masih tetap melaksanakan sunat dan melakukan tata ibadah di Bait Suci. Karena itu, kira-kira sepuluh tahun kemudian dari peristiwa ini, Tuhan mengizinkan Bait Suci di Yerusalem dihancurkan. Kota Yerusalem dan Bait Suci dihancurkan sampai rata tanah. Dengan demikian, kekristenan diharapkan bisa memiliki pengajaran yang murni.

Imam besar pasti marah seandainya Paulus mengatakan bahwa jabatan imam besar sudah dihentikan sejak Tuhan Yesus hadir ke dunia. Sama seperti sekarang ini, bahwa posisi imam juga tidak ada di posisi satu orang saja. Firman Tuhan berkata bahwa setiap orang yang percaya adalah imamat yang rajani. Artinya, tidak ada lagi orang yang bisa berposisi sebagai imam atas orang lain. Orang percaya adalah imam atas dirinya sendiri dan Yesus Kristus adalah Imam Besar atas orang-orang yang percaya kepada-Nya. Tugas imam besar sudah selesai, artinya sama dengan Paulus telah memecat posisi imam besar yang masih ada pada waktu itu. Pasti yang memiliki posisi sebagai imam besar pada waktu itu sangat marah. Hari ini pun sebenarnya tidak perlu lagi praktik keimamatan. Tidak perlu lagi simbol pemberkatan, karena pada hakikatnya berkat itu datang langsung dari Yesus Kristus, tidak melewati orang lain. Semua orang sama di hadapan Tuhan, tidak ada yang memiliki posisi lebih tinggi. Hanya tugasnya saja yang berbeda.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *