Hidup yang Berguna (Jelajah PB 519)

Kisah Para Rasul 27:34-44

Ketika kita diberi kesempatan untuk hidup di dunia ini, itu berarti bahwa kita harus bekerja untuk memberi buah. Paulus sebenarnya ingin memilih untuk tinggal bersama dengan Kristus, mati dengan segera. Tetapi dia tidak bisa memilih hal tersebut. Ketika diberi kesempatan untuk tetap tinggal di dunia ini, maka yang dilakukan adalah bekerja untuk memberi buah. Apa yang dilakukan oleh Paulus ini hendaknya bisa kita renungkan dengan baik. Jika kita saat ini masih berada di dunia ini, lebih perlu untuk menghasilkan buah kekekalan atau menghasilkan hal-hal jasmaniah saja? Berkat materi atau jasmani yang diberikan oleh Tuhan, sebaiknya kita pakai kembali untuk memuliakan Tuhan. Dengan demikian, kehadiran kita di dunia ini sungguh sangat diperlukan.

Jangan sampai kita hadir di dunia ini hanya membuat penuh dunia ini saja, serta menghabiskan makanan serta pakaian saja. Dunia ini sudah terlalu penuh dengan orang-orang yang demikian. Jangan sampai kehadiran kita di dunia ini tidak ada gunanya bagi Tuhan dan sesama manusia. Tuhan sengaja menyelamatkan Paulus dari maut, karena Paulus diperlukan oleh orang-orang yang berada disekitarnya. Dia juga diperlukan oleh jemaat-jemaat Tuhan untuk mengajar mereka. Paulus juga diperlukan oleh kita saat ini, karena kita bisa bertumbuh dengan membaca tulisan-tulisan yang diilhamkan oleh Tuhan kepadanya. Kita tidak pernah menemukan ada seseorang yang berani bersaksi di depan raja dengan sangat lantang seperti rasul Paulus. Sekarang Tuhan Yesus sedang kirim dia untuk menghadap Kaisar, supaya dia bisa bersaksi di hadapan Kaisar. Rasul Paulus diperlukan di dunia ini, untuk memberitakan Injil.

Jika hari ini kita belum mati, maka kita harus sadar bahwa kita sedang diperlukan, untuk memberitakan Injil, untuk menjadi saksi bagi Yesus Kristus. Bagi orang lain yang belum diselamatkan, itu urusan lain. Tetapi bagi kita yang sudah diselamatkan, seharusnya hidup kita menghasilkan buah yang bisa memberkati banyak orang. Itulah tugas dan fungsi orang percaya hidup di dunia ini. Yesuslah yang memberi pertimbangan, apakah kita masih perlu hidup di dunia ini atau tidak. Rasul Paulus tahu bahwa pada waktu itu belum saatnya dia mati. Biarpun kapal itu hancur berantakan, dia tahu bahwa saatnya belum tiba. Dia sedang diperlukan untuk bersaksi di depan Kaisar. Malaikat sudah datang kepada Paulus dan berjanji tidak akan mendatangkan maut bagi semua orang yang sedang berada di dalam kapal itu.

Paulus mengambil roti dan mengucap syukur kepada Tuhan di hadapan semua orang yang berada di kapal tersebut. Setelah itu Paulus memecah-mecahkan roti dan mereka semua mulai makan. Saat itu, kepemimpinan di kapal tersebut diserahkan kepada Paulus. Nahkota dan anak buah kapal telah gagal menilai angin dan cuaca. Mereka pun sudah gagal mengendalikan kapal. Setelah makan, kuatlah hati semua orang yang berjumlah dua ratus tujuh puluh enam jiwa itu. Setelah kenyang makan, mereka membuang gandum ke laut untuk meringankan beban kapal. Setelah hari mulai siang, mereka melihat daratan dan memutuskan untuk mendamparkan kapal tersebut ke daratan itu.

Ternyata di antara mereka banyak tahanan yang dikirim bersama-sama dengan Paulus. Karena kapal tidak bisa dekat dengan daratan, setelah terkena pasir, maka orang-orang yang pandai berenang terjun dahulu dan berenang ke darat. Sedangkan yang lain menyusul dengan mempergunakan papan atau pecahan-pecahan kapal. Demikianlah mereka semua selamat dan naik ke darat.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *