Halal dan Haram (Jelajah PB 433)

Kisah Para Rasul 10:10-16

Ketika Petrus sedang berdoa, dia merasa lapar dan ingin makan. Sementara makanan sedang disediakan, tiba-tiba rohnya diliputi oleh kuasa ilahi. Petrus sedang menerima pewahyuan. Hal ini sama seperti proses pewahyuan di dalam kitab Wahyu, ketika Tuhan memberikan pewahyuan kepada Yohanes di pulau Patmos. Pada saat itu Petrus melihat langit terbuka dan turunlah benda yang berbentuk kain lebar. Kain itu bergantung pada keempat sudutnya dan turun ke tanah. Di dalam kain yang lebar itu terdapat berbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung. Mungkin di dalamnya ada babi atau ular.

Setelah itu terdengar suara yang berkata: “Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!” Tetapi Petrus menolak perintah dari suara tersebut. Petrus berkata bahwa dia belum pernah memakan binatang-binatang tersebut. Dia tidak pernah makan sesuatu yang haram dan tidak tahir. Kedengaran kembali suara yang mengatakan: “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.” Hal itu terjadi sampai tiga kali. Setelah itu, benda tersebut terangkat kembali ke langit.

Petrus sedang diajar oleh Tuhan untuk memahami bahwa ibadah simbolik Perjanjian Lama sudah selesai. Di dalam paket ibadah simbolik Perjanjian Lama, segala sesuatu disimbolkan. Untuk menyimbolkan kekudusan, maka yang dijaga adalah kekudusan jasmaniah. Mereka tidak diperbolehkan sembarangan makan. Mereka tidak boleh makan binatang yang berkuku belah dan tidak memamah biak. Mereka juga tidak boleh makan binatang yang tidak bersisik. Penyakit kusta dipakai untuk simbol kutuk. Hari Sabat dipakai sebagai simbol bagi hari yang dikhususkan untuk Tuhan. Nama Yehova dipakai sebagai nama Sang Pencipta, untuk dikuduskan.

Ibadah simbolik ini selesai sejak Yohanes Pembaptis tampil dan memperkenalkan Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah yang menyelamatkan dunia (Matius 11:13). Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes (Lukas 16:16). Seharusnya, sejak saat itu tidak ada lagi makanan yang diharamkan. Sejak saat itu seharusnya penyakit kusta bukan lagi sebagai simbol kutuk. Sampai saat itu, ternyata Petrus belum paham tentang hal ini. Petrus masih belum bisa mengubah kebiasaannya yang lama. Bangsa Yahudi sudah ribuan tahun melakukan hal yang demikian, jadi mereka sulit untuk mengubah kebiasaan tersebut.

Tuhan Yesus berkali-kali sudah mengajarkan hal itu. Yesus pernah menyatakan bahwa semua makanan halal. Yang keluar dari mulut itulah yang menajiskan, bukan yang masuk ke dalam mulut. Tuhan Yesus juga sengaja menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat. Semuanya itu dilakukan-Nya untuk menyatakan dan mengajarkan bahwa hukum Taurat sudah digenapi dan ibadah simbolik sudah selesai. Demikian juga di dalam Perjanjian Baru, Tuhan tidak lagi dipanggil nama Yehova, tetapi menggunakan kata “Theos” dan “Kurios” dalam bahasa Yunani.

Pada waktu ibadah simbolik yang dipentingkan adalah ibadah secara jasmani, pada saat ini yang dipentingkan adalah ibadah dengan menggunakan hati. Dulu kekudusan jasmani itu penting, sekarang yang penting adalah kekudusan hati. Sekarang kita tidak lagi terikat pada simbol-simbol. Sekarang kita bisa berdoa dengan menghadap ke mana saja, tidak perlu menghadap ke Yerusalem atau ke tempat tertentu. Kita berdoa setiap saat, tidak dibatasi dengan waktu.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *