Jelajah PB 345 (Yohanes 10:1-6)

Pasal ini terkenal dengan sebutan sebagai pasal “gembala baik”. Tuhan Yesus sedang menggambarkan diri-Nya sebagai Gembala yang baik. Seringkali gambaran seperti ini menjadi masalah bagi orang-orang yang mencari kesalahan pengajaran Kristen, karena mereka tidak sedang mencari kebenaran. Mereka bisa berkata bahwa Yesus hanyalah Gembala, bukan Tuhan. Ketika Tuhan Yesus menggambarkan diri-Nya dalam beberapa gambaran, supaya kita bisa mengerti dan menghayati penggambaran itu sehingga kita lebih mengerti hubungan antara kita dengan Dia.

Ketika Tuhan Yesus memberikan gambaran diri-Nya sebagai Gembala yang baik, sebenarnya kita sedang diingatkan dengan Mazmur 23. Mazmur Daud itu menggambarkan Tuhan sebagai Gembala. Dia yang membimbing dan melindungi domba, yaitu umat-Nya. Daud adalah seorang gembala. Daud tahu seperti apa gembala yang baik, yang siap melindungi dombanya. Ketika Daud menghayati bahwa Tuhan adalah Gembalanya, maka kehidupannya menjadi tenang. Demikian juga dengan kita, jika kita menghayati Tuhan sebagai Gembala kita, maka hidup kita akan lebih tenang.

Selain sebagai Gembala, Yesus juga sebagai Pintu masuk bagi domba-domba tersebut. Orang-orang yang mau datang kepada Bapa tanpa melalui Yesus, mereka adalah orang yang mencoba memanjat tembok. Mereka disebut sebagai pencuri atau perampok. Yesus adalah Gembala dan Dia adalah Pintu itu sendiri. Gembala yang baik dan benar bisa mengenal domba-dombanya. Bahkan Ia bisa memanggil domba-dombanya menurut namanya serta menuntun mereka. Suara-Nya juga dikenal oleh para domba.

Domba yang wajar, dia pasti mengenal suara Gembalanya. Di dalam proses penggembalaan di bumi ini, Tuhan Yesus menyerahkan penggembalaan pertama kali kepada Petrus. Tuhan Yesus adalah Gembala. Kepada orang yang mengasihi-Nya, Tuhan Yesus memberi tugas untuk mengemban tugas penggembalaan ini, untuk menggembalakan domba-domba di dunia ini. Seharusnya domba-domba Tuhan mau mendengarkan gembala yang ditunjuk itu. Tetapi seringkali proses penggembalaan di dunia ini menjadi kacau. Jika domba menjadi galak kepada gembalanya, maka domba itu adalah domba yang tidak wajar. Selain itu, banyak juga gembala yang tidak wajar, karena tidak mau menggembalakan domba-domba dengan tulus.

Gereja-gereja pada zaman sekarang mungkin mengalami kebingungan, karena sistem yang dipakai di gereja terpengaruh dengan sistem telah dipakai di dunia ini. Apalagi jika anggota jemaat di sebuah gereja tersebut adalah orang-orang yang tidak lahir baru. Karena itu, proses penggembalaan menjadi membingungkan. Akibatnya yang terjadi di dalam gereja hanyalah perebutan kekuasaan atau pertikaian, bukan lagi fokus pada tugas panggilan gereja yang sesungguhnya, yaitu menjadi tiang penopang dan dasar kebenaran.

Di dalam proses penggembalaan, domba yang baik akan mengikuti gembala. Tuhan Yesus adalah Gembala kita yang agung. Manusia duniawi akan susah untuk mengerti perkara dan pengajaran rohani. Orang-orang Yahudi pada saat itu juga tidak mengerti apa yang dimaksud dengan Yesus. Sebenarnya orang-orang Farisi adalah gembala bagi orang-orang Yahudi. Tetapi ternyata mereka tidak menggembalakan orang Yahudi dengan baik. Mereka justru sering memeras dan memperberat hukum Taurat. Mereka bukanlah gembala yang baik, karena sebenarnya mereka tidak mengasihi Tuhan.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *