Jelajah PL

Rosh Hasanah (Jelajah PL 449)

Imamat 23:23-44 Masuk dalam hari raya kelima, sering disebut sebagai Rosh Hasanah atau permulaan tahun. Ini adalah hari raya tahun baru bagi orang Israel. Memang ada bulan Nisan sebagai bulan pertama orang Israel dalam kalender keagamaan. Dari sini kita bisa mengetahui bahwa orang Israel memiliki dua kalender, yaitu kalender agamawi dan kalender sekuler atau umum. […]

Rosh Hasanah (Jelajah PL 449) Read More »

Hari Kelima Puluh (Jelajah PL 448)

Imamat 23:14-22 Selanjutnya masuk pada hari raya keempat, yaitu hari raya Pentakosta. Hari Pentakosta ini dirayakan lima puluh hari (genap tujuh minggu) setelah hari Sabat, hari penuaian pertama. Hari raya keempat ini mirip dengan hari raya ketiga. Bedanya, di hari raya ketiga mereka mempersembahkan tuaian mereka yang pertama, yaitu tuaian di musim semi di bulan

Hari Kelima Puluh (Jelajah PL 448) Read More »

Hasil Penuaian Pertama (Jelajah PL 447)

Imamat 23:9-13 Hari raya ketiga, orang Israel membawa hasil penuaiannya yang pertama kepada imam. Hari raya ini dimulai setelah mereka masuk ke tanah Kanaan. Selama orang Israel berada di padang gurun, mereka tidak menuai apa-apa. Mereka belum berkebun atau bertani. Pada saat berada di padang gurun, mereka makan manna. Ketika mereka sudah masuk ke tanah

Hasil Penuaian Pertama (Jelajah PL 447) Read More »

Makna Praktis Hari Raya (Jelajah PL 446)

Imamat 23:7-8 Mengenai hari raya Paskah dan Roti Tidak Beragi, dijelaskan juga di dalam 1 Korintus 5:6-8, “Kemegahanmu tidak baik. Tidak tahukah kamu, bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan? Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.

Makna Praktis Hari Raya (Jelajah PL 446) Read More »

Roti Tidak Beragi (Jelajah PL 445)

Imamat 23:3-8 Mengenai hari Sabat, pengajaran rohani yang Tuhan inginkan adalah bahwa Sabat ini merupakan saat ketika manusia menghentikan semua kegiatan dan pekerjaannya, lalu berpaling kembali kepada Tuhan. Pada prinsipnya, manusia memiliki pemikiran yang sangat duniawi. Manusia harus memenuhi keperluannya untuk makan dan hidup. Karena itu, ada kecenderungan bagi manusia untuk mementingkan hal-hal yang duniawi

Roti Tidak Beragi (Jelajah PL 445) Read More »

Scroll to Top