Peralihan Generasi (Jelajah PL 574)

Bilangan 27:1-5

Mulai pasal ini, sudah mulai dengan generasi baru dari bangsa Israel. Generasi yang lama sudah mati karena ketidakpercayaan mereka pada saat di padang gurun. Itulah juga yang menjadi peringatan bagi kita, sesuai dengan yang tercatat di dalam Ibrani 3:17-19, “Dan siapakah yang Ia murkai empat puluh tahun lamanya? Bukankah mereka yang berbuat dosa dan yang mayatnya bergelimpangan di padang gurun? Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat? Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.”

Mulai ada generasi baru Israel yang akan memasuki tanah Kanaan. Ketika terjadi pergantian generasi, seringkali akan terjadi juga pergantian nilai-nilai. Seringkali generasi tua akan mengkritik generasi yang lebih muda, demikian juga sebaliknya. Tetapi pergantian generasi di Bilangan 27 ini tidak demikian. Ada generasi muda yang dengan hormat mau datang kepada Musa. Mereka membawa permasalahan yang ingin disampaikan kepada Musa. Mereka berbuat benar, karena telah datang kepada pemimpinnya.

Disebutkan ada lima perempuan yang merupakan anak dari satu orang yang bernama Zelafehad. Zelafehad ini berasal dari suku Manasye, dari keturunan Yusuf. Dia tidak memiliki anak laki-laki. Dia memiliki lima anak perempuan, mungkin karena memang ingin mendapatkan anak laki-laki. Pada masa itu, ketika seseorang hanya memiliki anak perempuan saja, akan menjadi masalah, terutama berkaitan dengan warisan.

Hukum pada saat itu, warisan akan diteruskan oleh anak laki-laki. Anak perempuan tidak mendapatkan jatah warisan. Para anak perempuan ini sedang memperjuangkan hidup mereka di hadapan Musa. Kalau hal ini terjadi di bangsa bukan Israel, tidak akan mendapatkan perhatian. Pada waktu itu, perempuan disamakan dengan harta yang bisa diperjualbelikan. Tetapi semua itu bukan kehendak Tuhan bagi para perempuan.

Kehendak Tuhan bagi para perempuan, mereka sepadan dengan laki-laki. Perempuan memiliki martabat yang sama dengan laki-laki, hanya berbeda tugas dan fungsinya. Tuhan memberikan peran yang berbeda di dalam rumah tangga, antara laki-laki dengan perempuan, bukan martabat yang berbeda. Hari ini mungkin sudah tidak terlalu bermasalah, tetapi di zaman Musa, posisi laki-laki dan perempuan bisa menimbulkan masalah.

Ketika anak-anak Zelafehad ini menyampaikan semua permasalahan mereka kepada Musa, maka Musa menyampaikan perkara mereka itu di hadapan Tuhan. Musa memang sama sekali tidak tahu apa yang harus ia putuskan dan lakukan. Musa sedang memberikan contoh kepemimpinan yang baik. Jika ada hal yang tidak kita ketahui, maka kita seharusnya kembali kepada Tuhan.

Views: 24

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top