Pentahiran Penyakit Kusta (Jelajah PL 415)

Imamat 14:1-7

Di pasal ini dijelaskan mengenai pentahiran seseorang yang memiliki penyakit kusta. Dalam hal ini, kusta tidak ditahirkan secara medis. Tuhan tidak menjelaskan cara penyembuhan penyakit kusta itu. Yang diajarkan dan dijelaskan di sini, jika kusta itu sembuh maka imam yang memiliki kewenangan untuk menyatakannya. Imam mengadakan pentahiran dan menyatakan secara seremonial bahwa penyakit itu telah sembuh. Tidak ada pemberitahuan mengenai cara penyembuhan dari penyakit kusta tersebut.

Memang Tuhan tidak memberitahu obat dari penyakit kusta tersebut, karena penyakit itu adalah gambaran dari dosa. Sama seperti dosa, tidak memiliki obat untuk penghapusan dosa. Manusia tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan dosa itu. Dosa itu hanya bisa dihapuskan dengan karya penyelamatan dari Yesus Kristus, Sang Imam Besar itu. Imam Besar yang akan menyatakan bahwa seseorang ditahirkan dari dosanya.

Untuk pentahiran, diperlukan persembahan yang berbeda. Semua persembahan yang sudah dijelaskan sebelumnya, harus dilakukan di Kemah Suci atau Bait Suci. Untuk pentahiran penyakit kusta, imam harus keluar dari perkemahan, karena orang yang terkena penyakit kusta tidak diperbolehkan masuk ke perkemahan. Mereka dikucilkan dan tidak akan diizinkan untuk masuk ke pelataran Bait Suci, ke mezbah korban bakaran.

Karena itu, imam harus menemui orang yang memiliki penyakit kusta itu. Hal ini menjadi gambaran yang indah, jika dikaitkan dengan kondisi kita pada saat ini. Seseorang yang berdosa sebenarnya tidak memiliki hak untuk datang mendekat kepada Tuhan. Kita digambarkan sebagai orang kusta yang najis. Karena itulah, Yesus Kristus sebagai Imam Besar, Ia yang turun dari Surga, keluar dari Kemah Suci-Nya di Surga, masuk ke dalam dunia yang penuh dosa ini.

Yesus datang mencari dan melawat kita. Itulah yang telah terjadi. Tuhan Yesus menjadi Gembala yang baik, yang sedang mencari domba yang terhilang. Yesus Kristus datang ke dunia, uncuk mencari dan menyelamatkan orang-orang yang tersesat dan terhilang. Karena itulah, maka imam yang keluar dari Kemah Suci, menemui orang kusta itu.

Persembahan yang dipakai untuk pentahiran adalah dua ekor burung hidup yang tidak haram, kayu aras, kain kirmizi dan hisop. Kayu aras memiliki nilai mahal dibandingkan dengan kayu yang lain. Kayu aras ini merupakan gambaran dari kemanusiaan Yesus Kristus. Kain kirmizi melambangkan darah yang tercurah, untuk penyelamatan. Hisop merupakan tanaman yang dipakai untuk kuas, yang biasa dipakai dengan mencelupkannya ke dalam darah dan memoleskan darah itu ke tempat tertentu.

Burung itu disembelih di atas belanga tanah yang berisi air mengalir. Sedangkan burung yang satunya, dicelupkan ke dalam darah burung yang sudah disembelih. Setelah itu, burung tersebut dibiarkan bebas. Yesus Kristus mati dan bangkit, supaya kita yang percaya kepada-Nya bisa bebas dari kematian kekal itu. 

Views: 21

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top