Kembali ke Yerusalem (Jelajah PL 426)

Imamat 17:6-16

Alasan kedua bahwa aturan dan perintah ini diberikan oleh Tuhan adalah untuk menghindarkan orang Israel kembali terjebak dalam penyembahan berhala. Jika setiap orang Israel diperbolehkan untuk mempersembahkan korban di tempat masing-masing, akan ada potensi besar mereka jatuh pada penyembahan berhala. Mereka bisa saja menggunakan cara-cara sendiri dan tidak ada orang lain yang mengingatkannya. Potensi besar mereka mempersembahkan korban tidak sesuai dengan cara Tuhan.

Istilah jin yang disebutkan di dalam ayat 7 tidak sama dengan pengertian jin pada saat ini. Jika dilihat dari bahasa aslinya, istilah ini bisa diterjemahkan kambing. Istilah ini mengacu pada dewa orang Mesir, dengan berhala-berhala yang digambarkan setengah manusia dan setengah kambing. Orang Israel dilarang untuk menyembah berhala-berhala seperti itu. Istilah jin juga bisa mengacu pada kuasa-kuasa gelap yang ikut memengaruhi mereka melakukan penyembahan berhala.

Di dalam 1 Yohanes 5:21 juga ada peringatan, “Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.” Berhala adalah segala sesuatu yang menempati tempat Tuhan dalam diri kita. Tempat Tuhan seharusnya menjadi yang utama dalam hidup kita. Jika ada hal lain yang lebih utama atau berharga dari Tuhan di dalam kehidupan kita, itulah berhala. Bahkan hal-hal yang baik pun bisa menjadi berhala bagi kita, seperti: keluarga, pekerjaan, materi, dll.

Alasan ketiga, Tuhan ingin menarik umat Israel selalu kembali ke Yerusalem. Memang pada waktu itu belum ada pemberitahuan mengenai kota Yerusalem dan Bait Suci. Tetapi dalam perjalanan waktu, kita tahu bahwa tempat yang dijadikan pusat bagi penyembahan kepada Yehova adalah kota Yerusalem. Karena itu, akan ada saatnya orang Israel harus kembali ke Yerusalem untuk menyampaikan persembahan korban kepada Tuhan.

Kota Yerusalem menjadi penting karena Tuhan Yesus akan masuk ke Yerusalem, untuk pengorbanan serta penyaliban-Nya. Semua peristiwa penting yang berkaitan dengan keselamatan di dalam Yesus Kristus, terjadi di kota Yerusalem. Bait Suci juga didirikan di Yerusalem, sebagai pusat penyembahan kepada Tuhan.

Mengenai darah, dijadikan simbol kehidupan atau nyawa. Ibrani 9:22 menyatakan, “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.” Sebagai simbol penting, maka orang Israel dilarang untuk makan atau minum darah.

Pada saat ini, sudah tidak ada makanan atau minuman yang haram. Sebenarnya, tidak ada persoalan secara rohani ketika kita makan darah. Dari segi kesehatan, darah tidak berguna bagi tubuh kita. Sebaiknya kita tidak mengkonsumsi itu, tetapi atas dasar kesehatan. Seandainya kita makan darah pun, tidak ada persoalan. Misalnya, kita makan daging yang sudah dimasak dengan darah atau gusi berdarah dan darah itu tertelan, tidak menjadi persoalan yang berarti.

Views: 15

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top