Imamat 22:1-3
Di pasal ini Tuhan berfirman melalui Musa dan membuat peraturan terhadap imam, khususnya dalam hal pelayanan mereka kepada Tuhan. Biasanya pelayanan para imam ini berkaitan dengan persembahan-persembahan yang diberikan oleh orang Israel kepada Tuhan. Di masa Perjanjian Lama ini, imam menjadi pengantara atau jembatan antara Tuhan dengan umat Israel. Tuhan sudah menggambarkan kekudusan-Nya, sehingga tidak seorang pun dapat mendekat kepada Tuhan tanpa perantara.
Manusia memiliki status berdosa, sehingga tidak akan tahan untuk mendekat dengan Tuhan yang kudus. Imam menjadi wakil umat untuk menghadap kepada Tuhan. Pada saat ini, kita sebagai orang yang sudah diselamatkan, memiliki relasi yang langsung kepada Tuhan. Kita telah ditetapkan menjadi imam atas diri kita sendiri, pada saat kita bertobat dan percaya kepada-Nya. Kita bisa menjembatani atau menjadi perantara antara orang-orang lain yang belum percaya kepada Tuhan dengan Tuhan.
Di dalam 2 Korintus 5:20 dikatakan, “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” Di dalam Perjanjian Baru sudah ditegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Imam Besar kita. Sedangkan kita adalah para imam yang memiliki hubungan langsung kepada Bapa karena Yesus Kristus. Kita menjadi perantara antara Tuhan dengan orang-orang yang belum diselamatkan, untuk mendamaikan mereka dengan Tuhan.
Kita hari ini tidak ada fungsi atau tugas keimamatan yang spesial. Karena itu, saat ini kita tidak lagi membawa persembahan berupa kambing domba, roti atau ukupan kepada Tuhan. Tetapi Imamat 22 ini mengajarkan kita bahwa melayani Tuhan merupakan tugas dan tanggung jawab yang serius. Ketika kita memberi diri untuk melayani Tuhan, maka kita harus melayani Tuhan sepenuh hati dan tidak main-main. Kita harus bisa memisahkan mana yang layak untuk Tuhan dan mana yang tidak layak untuk Tuhan.
Harun juga diperingatkan supaya berhati-hati terhadap persembahan kudus. Ada hal-hal yang sudah dikuduskan oleh Tuhan di Kemah Suci atau Bait Suci. Jika kita menyadari bahwa pelayanan kepada Tuhan itu serius dan tidak main-main, maka kekristenan akan semakin baik. Tidak ada kekacauan dalam pelayanan kepada Tuhan. Sukarela dalam melayani Tuhan bukan berarti asal-asalan atau seenaknya. Pelayanan kepada Tuhan harus dipersiapkan dengan baik dan matang. Jangan sampai persiapannya kalah dengan pelayanan duniawi.
Para imam harus memastikan bahwa semua yang dipegang atau disentuh harus dalam keadaan baik. Mereka harus hidup dalam kekudusan Tuhan. Hal ini juga berlaku bagi kita saat ini. Di dalam 1 Petrus 1:14-16 dikatakan, “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.
Views: 21