Sunat Bukan Baptisan (Jelajah PL 69)

Kejadian 17:14

Tanda sunat ini tidak mengikat kita sebagai orang percaya di zaman ini. Sunat adalah tanda perjanjian antara Tuhan dengan Abraham dan keturunan biologisnya, yaitu bangsa Israel. Tuhan tidak mengharuskan kita sebagai orang percaya untuk menerima tanda sunat ini. Di zaman kekristenan awal, orang-orang Yahudi pernah memaksakan tanda sunat ini kepada orang-orang Kristen. Pada waktu itu, mereka sangat bangga dengan tanda sunat ini, sehingga memaksakan juga kepada orang lain yang bukan Yahudi.

Di dalam Surat Galatia diceritakan bahwa ada orang-orang Yahudi yang datang ke Galatia untuk memberikan pengajaran Kristen yang sudah dicampur dengan ajaran Yahudi, salah satunya adalah sunat. Mereka menempatkan iman mereka bukan lagi pada Kristen, tetapi pada sunat. Paulus sangat marah dengan orang-orang Yahudi seperti ini dan dianggap telah memberitakan Injil lain. Di dalam Galatia 5:6, Paulus dengan tegas mengatakan: “Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.”

Orang-orang Yahudi itu mengajarkan tentang sunat ini kepada orang-orang yang sudah percaya kepada Yesus, buah pelayanan dari penginjilan Paulus. Mereka datang dan ingin menggoyahkan iman yang sudah ditanamkan oleh Paulus. Orang-orang yang telah percaya dan beriman kepada Yesus Kristus, mereka masih bisa membuang iman mereka. Mereka bisa meninggalkan iman mula-mula mereka dan mengikuti Injil lain. Hari ini, ada juga orang yang menambahkan baptisan pada iman mereka, atau menambahkan perbuatan baik.

Sunat tidak ada hubungan dengan hal rohani. Jika orang percaya perlu disunat karena alasan medis, hal itu bisa dilakukan. Yang tidak boleh dilakukan adalah ketika melakukan sunat karena alasan rohani. Sunat atau tidak bersunat, tidak akan berpengaruh bagi perkenanan Tuhan kepada kita. Sunat juga tidak akan mempengaruhi keselamatan yang telah kita dapatkan dari Yesus Kristus.

Bagi orang-orang Israel sendiri, sunat akan menjadi tidak berguna ketika mereka tidak mau percaya kepada Tuhan. Ketika mereka tidak mau percaya kepada Tuhan, mereka menjadi pembangkang Tuhan. Bagi kita, di zaman ibadah hakikat ini, yang paling penting adalah hati kita yang benar-benar percaya kepada Tuhan, daripada tanda simbol mengenai sunat. Sunat penting bagi Abraham dan keturunannya, untuk mengingat akan janji Tuhan mengenai keturunan dan tanah.

Tanda kita bukan di daging lagi, tetapi di hati. Di dalam Filipi 3:2-3 dikatakan, “Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu, karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.”

Ketika kita percaya sungguh-sungguh pada Yesus Kristus, maka kita telah melakukan sunat hati. Kita tidak lagi menaruh percaya dan iman kita pada tanda-tanda yang lahiriah. Sunat juga tidak bisa disamakan dengan baptisan, karena beda tujuan dan beda cara. Sunat di dalam Perjanjian Lama tidak bisa digantikan dengan baptisan di Perjanjian Baru. Konsepnya berbeda.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *