Kekacauan Dalam Poligami (Jelajah PL 64)

Kejadian 16:4-7

Abram mendengarkan serta menyetujui usulan istrinya. Hasilnya justru kekacauan. Akhirnya Abram memiliki anak yang diberi nama Ismael, anak dari Hagar, budak Sarai. Kekacauan ini tidak hanya terjadi pada waktu itu, bahkan dampaknya secara tidak langsung bisa dirasakan sampai hari ini. Keputusan yang salah, bisa berdampak sangat besar. Bahkan dampak itu bisa menjangkau banyak orang di banyak generasi.

Hukum Taurat pada saat itu memang belum diturunkan. Tetapi ada hukum-hukum Tuhan yang lain, yang sudah disampaikan oleh Tuhan. Hukum itu tidak formal, seperti hukum yang dituliskan di gunung Sinai dan diberikan melalui Musa. Manusia pada waktu itu seharusnya sudah tahu bahwa Tuhan menghendaki supaya manusia memiliki perkawinan yang monogami (satu suami dan satu istri).

Jika kita membaca Alkitab, terutama Perjanjian Lama, banyak sekali tokoh Alkitab yang berpoligami. Pada waktu itu, terang firman Tuhan belum terlalu jelas, seperti saat ini. Tetapi dari awal, poligami itu tidak dibenarkan oleh Tuhan. Dari kisah-kisah yang ada di dalam Alkitab, masalah akan selalu timbul dengan sangat besar, ketika mereka melakukan poligami. Kisah poligami itu dicatat bukan untuk dilakukan, tetapi untuk menyadarkan kita bahwa perbuatan itu akan berakibat fatal.

Ketika Abram mengambil Hagar sebagai istrinya, maka Hagar hamil. Dari kisah ini disimpulkan bahwa memang Tuhan menutup kandungan Sarai. Ketika Hagar hamil, ia mulai sombong dan memandang rendah Sarai. Seperti inilah kecenderungan manusia, ketika mendapatkan hasil. Kita harus menjaga diri supaya tidak mudah sombong, apalagi memandang rendah orang lain. Keberhasilan kita perlu disyukuri tanpa harus mengejek orang lain yang tidak berhasil.

Lama kelamaan, Sarai tidak tahan lagi dengan penghinaan Hagar itu. Sarai datang kepada Abram dan menyerahkan persoalannya itu. Sarai berkata, “Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu.” Jika kita melihat dari awal, semua ini adalah usulan Sarai. Tetapi ketika ada masalah, maka tanggung jawab itu justru diberikan kepada Abram. Sarai meminta Abram untuk melakukan sesuatu, menolong Sarai.

Abram berkata, “Hambamu ini di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.” Setelah itu, Sarai menindas Hagar. Hagar tidak kuat ditindas oleh Sarai, sehingga ia melarikan diri. Mungkin Hagar pada saat itu berpikir untuk melarikan diri ke Mesir, kembali ke negaranya. Jika dibiarkan melarikan diri ke Mesir, Hagar bisa dipastikan tidak akan sampai ke Mesir. Ia mungkin akan mati di perjalanan. Dari Kanaan menuju ke Mesir, perlu melewati padang gurun yang cukup jauh.

Di dalam perjalanannya dan kemungkinan ia sudah putus asa, malaikat Tuhan menjumpai Hagar di dekat mata air di padang gurun, yakni dekat mata air ke jalan Syur. Sepertinya Hagar belum lama tinggal bersama dengan Abram. Paling tidak, Hagar pernah mendengar tentang Tuhan yang disembah oleh Abram. Bisa saja Abram juga memberitahukan Tuhannya kepada seisi rumahnya, termasuk pada budak-budak yang bersama-sama dengan dia.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *