Bukan Bangsa Istimewa (Jelajah PB 799)

Kolose 3:7-11

Tuhan tidak mau Dia disamakan dengan berhala atau sesembahan lain, karena hal tersebut akan dianggap sebagai kedurhakaan besar. Tuhan mau supaya kita benar-benar mengasihi-Nya dengan segenap hati. Berkat materi seharusnya bukan menjadi yang utama. Yang paling utama adalah Dia mengasihi kita dan kita mengasihi Dia. Siapapun yang datang kepada Tuhan dengan tujuan untuk mendapatkan berkat materi, maka sikap orang tersebut telah menyamakan Tuhan dengan dewa atau dewi lain di dunia ini. Semuanya itu akan mendatangkan murka dari Tuhan.

Ternyata dulu orang-orang Kolose melakukan semuanya itu. Mereka pernah hidup di dalam penyembahan berhala. Tetapi sekarang, Tuhan memerintahkan untuk menyingkirkan hal-hal ini: marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulut. Kita tidak boleh saling mendustai, karena kita telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya. Kita sekarang telah mengenakan manusia baru yang terus menerus dapat diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang Tuhan. Belajar Alkitab dan merenungkan firman Tuhan seperti yang kita lakukan sekarang ini, pada saat kita membaca Alkitab dan renungan yang saya tulis, merupakan salah satu cara untuk mendapatkan pengetahuan yang benar.

Berdiri di hadapan Tuhan, dalam hal keselamatan, tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka. Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Banyak orang Yahudi pada waktu itu, bahkan sampai sekarang tidak bisa memahami tentang hal ini. Rasul Paulus diberikan anugerah oleh Tuhan untuk memahami tentang hal ini. Ia telah menuliskan dan mengajarkannya. Kita kemudian mempelajari semuanya itu, sehingga memperoleh pengetahuan dan memahami tentang rahasia keselamatan ini.

Orang Yahudi berpikir bahwa mereka adalah orang istimewa di hadapan Tuhan. Mereka tidak menyadari bahwa dulu Tuhan memilih mereka bukan untuk masuk Surga, tetapi untuk menjadi tiang penopang dan dasar kebenaran pada zaman Perjanjian Lama. Hal ini dimaksudkan supaya melalui bangsa Yahudi, maka semua bangsa di muka bumi ini bisa mengenal Tuhan, Sang Pencipta. Bangsa Yahudi mendapat tugas dari Tuhan untuk menjadi contoh dan teladan untuk memberitakan segala sesuatu tentang Tuhan kepada semua manusia di dunia ini. Sebelum bangsa Yahudi, Tuhan juga telah menugaskan ayah sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran bagi keluarganya. Ayah mendapat tugas ini sejak zaman Adam dan Hawa hingga hukum Taurat diturunkan di atas gunung Sinai. Dari gunung Sinai sampai Yohanes Pembaptis, bangsa Yahudi mendapatkan tugas sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran. Dari zaman Yohanes Pembaptis sampai hari pengangkatan nanti, maka gereja atau jemaat lokal yang diberi tugas untuk menjadi tiang penopang dan dasar kebenaran.

Jemaat lokal inilah yang disebut sebagai tubuh Yesus Kristus. Karena itu Kristus disebut sebagai semua dan di dalam segala sesuatu di dalam jemaat tersebut. Di dalam sebuah jemaat lokal, tidak boleh lagi ada pembedaan suku atau golongan. Tidak ada lagi orang Yahudi atau orang Yunani, orang bersunat atau tak bersunat.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *