Jelajah PL

Masa Kelimpahan di Mesir (Jelajah PL 180)

Kejadian 41:37-57 Di hadapan Firaun dan para pegawai raja, telah berdiri seorang muda Ibrani yang sangat mengesankan mereka semua. Yusuf telah mengartikan mimpi yang menggelisahkan hati Firaun. Bahkan Firaun mengakui bahwa Roh Tuhan ada dalam diri Yusuf. Memang Firaun tidak tahu tentang konsep Tuhan yang disembah oleh bangsa Israel. Firaun hanya berbicara berdasarkan atas keyakinannya […]

Masa Kelimpahan di Mesir (Jelajah PL 180) Read More »

Yusuf Mengartikan Mimpi (Jelajah PL 179)

Kejadian 41:25-36 Ketika Firaun menceritakan mimpinya kepada Yusuf, ada beberapa hal yang ditambahkan oleh Firaun secara detail. Firaun mengatakan bahwa tujuh lembu kurus itu disebut sebagai kulit pemalut tulang, sangat buruk bangunnya dan kurus badannya. Ia juga menjelaskan bahwa tidak pernah dilihat lembu seburuk itu di seluruh tanah Mesir. Ketika lembu itu memakan lembu lain

Yusuf Mengartikan Mimpi (Jelajah PL 179) Read More »

Sekolah Kehidupan (Jelajah PL 178)

Kejadian 41:8-24 Pada zaman Yusuf, Tuhan masih menggunakan mimpi untuk berkomunikasi dengan manusia tertentu. Firaun merasa bahwa mimpinya ini memiliki makna atau arti khusus. Dia merasakan ada hal yang berbeda dengan mimpi yang baru saja muncul dalam tidurnya. Mungkin mimpinya sangat nyata, karena pesannya cukup membuat Firaun penasaran, sehingga ia gelisah. Pagi harinya, Firaun langsung

Sekolah Kehidupan (Jelajah PL 178) Read More »

Mimpi Bukan Firman (Jelajah PL 177)

Kejadian 41:2-7 Firaun bermimpi bahwa ia berdiri di tepi sungai Nil. Maka tampaklah dari sungai Nil, keluar tujuh ekor lembu yang baik dan gemuk, sedang makan rumput di tepi sungai itu. Pasti Firaun cukup gembira dengan gambaran mimpi seperti itu. Bagi orang Mesir, lembu menjadi perwujudan dari salah satu dewa mereka, yaitu dewa kesuburan. Mesir

Mimpi Bukan Firman (Jelajah PL 177) Read More »

Melewati Ketidakpastian (Jelajah PL 176)

Kejadian 41:1 Genap dua tahun setelah peristiwa juru minuman dan juru roti, Firaun bermimpi. Dalam hal ini kita diperlihatkan dengan waktu Tuhan yang tidak bisa diprediksi oleh manusia yang terbatas. Tuhan tahu waktu yang paling baik bagi anak-anak-Nya. Sedangkan bagi kita, waktu yang paling baik adalah sekarang. Jika kita sedang menghadapi persoalan, maka kita ingin

Melewati Ketidakpastian (Jelajah PL 176) Read More »

Scroll to Top