Ibrani 2:10-18
Dalam hidup kita, mungkin kita pernah menemui orang yang berkuasa tetapi tidak peduli, atau pintar tetapi sulit didekati. Ada dosen yang memiliki ilmu pengetahuan tinggi, tetapi mahasiswa takut mendekati. Ada pemimpin yang memiliki jabatan tinggi, tetapi tidak pernah mau mendengar. Ada orang yang kelihatan rohani, tetapi terasa jauh dan dingin.
Sepertinya banyak orang Kristen membayangkan Tuhan seperti itu: Tuhan itu tinggi, suci, jauh, dan sulit didekati. Tuhan hanya bisa dipanggil pada saat kebaktian, tetapi tidak benar-benar hadir dalam pergumulan hidup yang nyata: dalam kelelahan, tekanan studi, konflik batin, atau luka pribadi.
Tetapi, di dalam Ibrani 2:10-18, tulisan ii menghadirkan gambaran yang sangat berbeda. Firman Tuhan di bagian ini menunjukkan bahwa Tuhan yang maha mulia itu justru memilih jalan yang sangat dekat, sangat manusiawi, bahkan penuh dengan penderitaan. Kita diperkenalkan dengan Yesus Kristus, sebagai Tuhan yang tidak menjaga jarak, tetapi Tuhan yang turun, hadir, dan berjalan bersama manusia.
Pertama, Yesus memilih jalan penderitaan untuk menyelamatkan kita (ayat 10). Pilihan ini aneh dan tidak masuk akal bagi banyak orang. Tuhan itu maha kuasa, tetapi kenapa keselamatan tidak dikerjakan dengan cara instan, spektakuler, dan tanpa sakit? Sebenarnya Tuhan memilih jalan yang seharusnya mudah dipahami oleh manusia.
Dalam hidup kita, seringkali, orang yang paling kita percayai bukanlah orang yang paling sempurna, tetapi orang yang pernah mengalami peristiwa yang sama atau serupa dengan kita (se-frekuensi). Seorang teman yang pernah gagal (dalam berbagai hal) akan memahami kegagalan kita dengan lebih baik daripada orang yang hanya bisa memberi nasihat. Seorang dosen yang pernah jatuh dan bangkit, seringkali lebih bijak membimbing mahasiswa daripada yang hanya berbicara tentang teori.
Yesus memilih jalan penderitaan, supaya keselamatan bukan hanya teori, tetapi pengalaman nyata. Tuhan tidak menyelamatkan dari jauh, tetapi masuk dalam realitas hidup manusia. Bagi para mahasiswa, hal ini perlu menjadi peringatan penting: pelayanan bukan hanya soal menyampaikan pengajaran firman dengan benar, tetapi juga hadir di tengah penderitaan umat yang kita layani. Jika Yesus yang kita layani menyelamatkan melalui penderitaan, maka kita pun tidak bisa lepas dari pergumulan hidup.
Kedua, Yesus Kristus tidak malu menyebut kita saudara (ayat 11-13). Dalam berbagai komunitas, seringkali ada jarak, paling tidak antara senior dan junior. Tetapi Tuhan tidak membuat jarak seperti itu. Seharusnya kita pun demikian, tidak membuat jarak yang terlalu lebar dengan umat. Kita tidak boleh membangun pelayanan kaum elit. Kita seharusnya juga tidak membedakan antara klerus dan non-klerus. Kita sama di mata Tuhan, hanya beda tugas dan tanggung jawab. Jika Yesus tidak malu menyebut kita saudara, maka gereja dan pelayan Tuhan seharusnya menjadi ruang yang aman.
Ketiga, Yesus mengalahkan ketakutan manusia yang paling mendasar, yaitu ketakutan pada kematian (ayat 14-15). Menurut ayat ini, manusia diperhamba seumur hidup oleh ketakutan pada maut (kematian). Kematian yang dimaksud dalam arti luas, bukan hanya kematian secara fisik. Segala bentuk ketakutan, akan melumpuhkan kehidupan manusia: takut gagal, takut tidak memiliki masa depan cerah, takut tidak diterima, takut salah jalan, takut tidak cukup baik di mata orang, dll. Bisa saja para mahasiswa hidup dalam tekanan yang tidak kelihatan: IPK, tuntutan orang tua, standar pelayanan, ekspektasi jemaat: semua itu bisa menjadi ketakutan yang membelenggu hati.
Keempat, Yesus adalah Imam Besar yang mengerti pergumulan kita (ayat 17-18). Yesus pernah dicobai Iblis. Yesus menjadi manusia yang sangat menderita, baik fisik maupun mental. Yesus mengalami kelelahan fisik, tekanan emosional, kesepian, atau godaan untuk menyerah. Karena itu, ketika kita berdoa kepada Tuhan, kita sedang berbicara kepada Tuhan yang mengerti keadaan manusia seutuhnya.
Aplikasi praktis:
Di dalam studi dan pelayanan, ingatlah bahwa Tuhan tidak menuntut kesempurnaan, tetapi ketaatan dan kesetiaan. Di dalam relasi, belajarlah untuk tidak menjaga jarak dari komunitas kita. Di dalam pelayanan gereja dan pendidikan, utamakan empati daripada penghakiman. Di dalam doa pribadi, datanglah dengan jujur, karena Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang mengerti dan peduli.
Views: 2