Ulangan 3:15-29
Peperangan rohani akan dialami oleh orang percaya, terus menerus. Kita tidak bisa berhenti untuk masuk dalam peperangan rohani ini. Tidak ada pensiun atau istirahat secara rohani, karena pada hakikatnya, orang percaya adalah makhluk rohani yang berada di dalam jasmani. Yang ada hanya pensiun secara jasmani. Jika kita sudah mulai masuk usia lanjut, maka hanya jenis pelayanan yang mungkin berbeda. Tetapi peperangan secara rohani tetap berlanjut.
Gad, Ruben dan setengah suku Manasye, mereka sudah mendapatkan wilayah di sebelah timur sungai Yordan. Mereka sebenarnya sudah bisa hidup nyaman. Tetapi Musa mengingatkan mereka, supaya ikut berperang bersama dengan suku-suku Israel yang lain, masuk ke tanah Kanaan. Peperangan orang percaya, bukan lagi melawan fisik. Kita juga harus terus berperang secara rohani, bersama-sama dengan saudara seiman lainnya.
Musa sebenarnya sangat ingin masuk ke tanah Kanaan, tetapi Tuhan tidak memberi izin kepadanya. Musa pada waktu itu berusia seratus dua puluh tahun. Empat puluh tahun pertama, ia berada di Mesir. Pada waktu ia menjadi keluarga Firaun di Mesir. Empat puluh tahun kedua, Musa melarikan diri untuk belajar lemah lembut dengan cara menggembalakan domba mertuanya di Midian. Empat puluh tahun terakhir, Musa benar-benar dipakai oleh Tuhan untuk menyelamatkan bangsa Israel.
Karena perjalanan hidupnya itulah, maka Musa sangat menginginkan bisa masuk ke tanah Kanaan. Di ayat 23, Musa memohon kasih karunia dari Tuhan. Musa merupakan pendoa yang kuat. Kita perlu ingat bahwa Tuhan pernah ingin memusnahkan seluruh bangsa Israel, ketika mereka membuat patung lembu emas dan menyembahnya. Pada waktu itu, Tuhan ingin membangun sebuah bangsa dari Musa dan keturunannya. Tetapi Musa berdoa dan memohon kepada Tuhan, supaya tidak membinasakan Israel, karena umat itu milik kepunyaan Tuhan. Tuhan mendengarkan dan mengabulkan doa Musa.
Tetapi di saat ini, Musa memohon supaya diizinkan untuk menyeberang dan melihat negeri yang baik di seberang sungai Yordan. Tuhan tidak mengizinkannya. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa kepada orang yang dikasihi Tuhan, Tuhan selalu mendengarkan doa. Namun, Tuhan tidak selalu mengabulkan permintaan dan permohonan umat-Nya. Tuhan tidak selalu mengabulkan permohonan kita. Tuhan mendengar dan peduli dengan doa kita.
Tuhan menjawab doa Musa, tetapi dengan jawaban tidak. Bukan berarti Tuhan tidak peduli dengan kerinduan Musa itu. Akhirnya Tuhan mengizinkan Musa untuk naik ke puncak gunung Pisga. Dari sana Musa bisa melihat wilayah seberang sungai Yordan. Dalam permohonannya, Musa ingin melihat negeri yang baik itu. Karena itulah, Tuhan memberi izin Musa untuk melihat.
Musa tidak diperkenankan masuk ke tanah Kanaan karena Tuhan murka. Peristiwa murka Tuhan ini dicatat di dalam Bilangan 27. Pada waktu itu, untuk kedua kalinya bangsa Israel bersungut-sungut meminta air. Musa memukul batu yang seharusnya tidak boleh dipukul, hanya diperbolehkan untuk berbicara dengan batu itu. Batu karang itu juga menjadi lambang dari Yesus Kristus.
Views: 29