Ulangan 8:2-3
Musa mengingatkan kembali tentang perjalanan bangsa Israel di padang gurun selama kurang lebih empat puluh tahun. Selain sebagai penghukuman, perjalanan padang gurun itu juga memiliki tujuan lain. Empat puluh tahun itu sebenarnya bukan waktu yang sia-sia. Selama perjalanan di padang gurun, Tuhan mengajarkan bangsa Israel untuk memiliki kerendahan hati.
Memang manusia cenderung untuk sombong. Kita harus terus berjuang untuk melawan kesombongan, supaya tidak merasa diri hebat. Hal ini berlaku pada siapa pun juga, dalam pekerjaan dan situasi apa pun. Kesombongan juga bisa muncul dalam dunia pelayanan. Tuhan tidak suka dengan kesombongan. Terkadang Tuhan mengizinkan terjadi kesusahan, supaya manusia belajar untuk rendah hati.
Di dalam 1 Petrus 5:6 dikatakan, “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” Dilanjutkan di ayat 7, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” Kesombongan ternyata berkaitan dengan kekuatiran. Orang yang masuk dalam kesombongan, akan menjadikan dirinya penuh kekuatiran.
Orang bisa sombong karena sudah merasa mendapatkan pencapaian yang baik, dibandingkan dengan orang lain di sekitar kita. Dengan kebanggaan yang terjadi, ternyata kekuatiran bisa muncul, karena mengalami ketakutan akan kehilangan semua itu. Manusia memiliki kecenderungan untuk mengendalikan semua yang ada. Ketika kita merasa aman, merasa memegang kendali dengan hidup kita, maka kita akan memiliki potensi untuk kuatir.
Sejatinya, manusia itu lemah dan rentan. Semua rencana kita bisa bubar dalam sekejap. Hal-hal seperti ini yang bisa membawa kita pada kekuatiran. Dalam kondisi sombong, kekuatiran bisa digunakan oleh Iblis untuk menyerang kita. Karena itu, jika dilanjutkan membaca 1 Petrus 5:8, maka dikatakan, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.”
Kita perlu menyadari semua ini. Kita perlu berjuang melawan kesombongan diri. Kita juga jangan terjebak pada rasa nyaman dan aman. Kita juga harus sadar bahwa yang memegang kendali kehidupan bukan kita sendiri, tetapi Tuhan. Cara yang paling baik untuk melawan kesombongan adalah merendahkan hati di hadapan sesama dan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Ketertundukan kita di bawah kendali Tuhan, akan membuat kita benar-benar mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita.
Tuhan sengaja membawa bangsa Israel dalam perjalanan di padang gurun, untuk merendahkan hati mereka. Tekanan seperti ini bisa membuat kita mengetahui segala sesuatu yang ada di dalam hati kita. Pengetahuan atau pemahaman ini lebih kepada kecenderungan hati, apakah kita berpegang pada perintah Tuhan atau tidak. Memang Tuhan tahu segala sesuatu. Tetapi tekanan hidup akan membuat manusia tahu dan sadar. Jika tidak sadar, berarti manusia itu memang sudah bebal.
Views: 7