Ulangan 12:5-6
Ketika bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan, Tuhan memberi perintah kepada mereka untuk menghancurkan serta memusnahkan semua tempat penyembahan berhala. Tempat penyembahan berhala tersebut ternyata berada di seluruh wilayah Kanaan. Setelah itu, Tuhan anak memilih tempat untuk meninggikan nama-Nya. Orang Israel nanti harus pergi ke tempat itu untuk menyembah Tuhan.
Berdasarkan sejarah Israel serta penulisan kitab-kitab sesudah itu, tempat yang dimaksudkan adalah kota Yerusalem. Yerusalem akan menjadi tempat utama bagi penyembahan kepada Tuhan. Di kota itu akan didirikan Bait Suci di zaman Salomo. Sebelum bangsa Israel melakukan penyembahan di Yerusalem, mereka juga tetap menjalankan kewajibannya sebagai umat pilihan. Pada waktu itu, setelah mereka mengalahkan bangsa Kanaan, bangsa Israel membangun Kemah Pertemuan di Silo.
Ketika masih zaman hakim-hakim, sebelum zaman raja-raja, Silo menjadi tempat mendirikan Kemah Pertemuan. Imam besar berada di sana. Silo menjadi tempat penyembahan sementara, karena sesudah itu Tuhan memindahkan tempat penyembahan di Yerusalem. Situasi saat itu jelas berbeda dengan situasi saat ini. Pada saat itu, orang Israel hanya bisa menyembah di satu tempat saja yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Mereka harus terpusat di tempat itu.
Israel bersifat kebangsaan atau nasional. Jika mereka dibiarkan untuk menyembah Tuhan di tempat masing-masing, maka perasaan kebangsaan atau kesatuan mereka akan menurun. Apalagi mereka terdiri dari dua belas suku, bisa saja terjadi kecenderungan untuk saling memisahkan diri. Tempat penyembahan itu menjadi pengikat bagi mereka, bersifat rohani, untuk menjaga keutuhan mereka sebagai bangsa.
Hal itu terbukti ketika di zaman setelah raja Salomo, kerajaan Israel pecah menjadi dua. Satu kerajaan di bawah Rehabeam, dan satu lagi di bawah Yerobeam. Rehabeam menguasai dua suku di sebelah selatan dan Yerobeam menguasai sepuluh suku di sebelah utara. Pada waktu itu Yerobeam memberi perintah supaya suku yang dikuasainya tidak lagi pergi ke Yerusalem. Yerobeam menjadi penjahat besar, karena membuat sepuluh suku berlaku menyimpang dari Tuhan. Akhirnya Tuhan menghukum Yerobeam.
Secara politik, Yerobeam tahu bahwa Yerusalem menjadi pemersatu bagi semua bangsa Israel, sehingga ia melarang suku di bawah kekuasaannya datang ke Yerusalem. Secara rohani, Yerusalem juga menjadi pemersatu bagi penyembahan bangsa Israel kepada Tuhan. Semua persembahan kepada Tuhan harus dibawa ke Yerusalem: korban bakaran, korban sembelihan, persembahan persepuluhan, persembahan khusus, korban nazar, dan korban sukarela.
Di sana bangsa Israel akan makan di hadapan Tuhan dengan bersukaria. Dengan demikian, maka Tuhan akan memberkati bangsa Israel, memberkati keluarga beserta seisi rumahnya. Tuhan juga berjanji akan memberkati semua usaha mereka. Yerusalem menjadi pusat segala sesuatu bagi bangsa Israel.
Views: 14