Ulangan 5:11-12
Hukum ketiga: Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. Hukum ini menggambarkan bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang terhormat. Dia adalah Raja yang agung, tidak boleh menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
Tetapi perintah ini bisa disalahpahami dalam dua hal. Pertama, perintah ini diabaikan dan tidak peduli kepada Tuhan. Orang-orang barat sering menggunakan nama “Jesus Christ” sebagai umpatan atau kata-kata yang muncul secara spontan pada saat kaget. Kita bisa membayangkan seandainya nama orang tua kita dijadikan sebagai umpatan, pasti kita akan sangat sedih. Bukan kita tidak diperbolehkan untuk menyebut nama Tuhan. Tetapi, ketika kita menyebut nama Tuhan, seharusnya dengan hormat, bukan sebagai umpatan atau kagetan.
Kedua, ada kalangan yang tidak berani menyebut nama Tuhan karena takut menyebutnya dengan salah atau sembarangan. Kalangan Yahudi masuk dalam kesalahpahaman ini. Tuhan tidak melarang menyebut nama-Nya, tetapi melarang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. Orang Yahudi tidak mau menyebut nama Yehova dan menyebut Hasyem (Nama Itu) atau Adonai.
Di dalam Mazmur 99:3, 6 dikatakan, “Biarlah mereka menyanyikan syukur bagi nama-Mu yang besar dan dahsyat; Kuduslah Ia! Musa dan Harun di antara imam-imam-Nya, dan Samuel di antara orang-orang yang menyerukan nama-Nya. Mereka berseru kepada TUHAN dan Ia menjawab mereka.” Orang-orang beriman diperkenankan untuk menyerukan nama Tuhan.
Hukum keempat: Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat. Sabat artinya berhenti atau beristirahat. Dalam hal ini, ada orang yang tidak peduli, tetapi ada juga salah paham. Semua hukum ini diulang dan dikukuhkan di dalam Perjanjian Baru, kecuali hukum keempat ini. Justru sebaliknya, Perjanjian Baru menegaskan bahwa kita tidak lagi berada di bawah hukum Sabat ini. Tetapi bukan berarti kita tidak bisa belajar dari pola hukum ini.
Di dalam Perjanjian Baru, hukum Sabat ini disebut sebagai bayangan. Hukum ini dikhususkan bagi bangsa Israel, sebagai perjanjian antara Tuhan dengan Israel. Di dalam Keluaran 31:13 dikatakan, “Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN yang menguduskan kamu.”
Sebenarnya Sabat diberikan kepada Israel, bukan kepada bangsa-bangsa lain. Hal ini ditegaskan juga di dalam Nehemia 9:13-14, “Engkau telah turun ke atas gunung Sinai dan berbicara dengan mereka dari langit dan memberikan mereka peraturan-peraturan yang adil, hukum-hukum yang benar serta ketetapan-ketetapan dan perintah-perintah yang baik. Juga Kauberitahukan kepada mereka sabat-Mu yang kudus dan memberikan kepada mereka perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan hukum-Mu dengan perantaraan Musa, hamba-Mu.”
Konsep Sabat memang terkait sejak penciptaan. Tetapi hukum Sabat, hanya diberikan kepada bangsa Israel. Sebelum peristiwa Sinai, tidak ada ketetapan khusus tentang hari Sabat.
Views: 13