Ulangan 15:12
Pada saat Alkitab ini ditulis, praktik perbudakan di banyak bangsa sudah sangat banyak. Budak menjadi seperti barang atau harta milik tuannya. Tuan yang memiliki budak ini bisa melakukan apa saja terhadap budak itu. Dalam perkembangan zaman, kekristenan mengajak untuk memperlakukan budak sebagai saudara. Seperti kisah Onesimus, seorang budak yang akhirnya percaya kepada Tuhan, maka Paulus menasihati Filemon sebagai pemilik budak itu untuk memperlakukannya sebagai saudara seiman.
Jika Filemon memperlakukan seorang budak sebagai saudara di dalam Tuhan, sesungguhnya ia sudah bukan budak lagi, tetapi menjadi orang yang sedang bekerja. Prinsip-prinsip dalam kekristenan yang akhirnya mendorong banyak negara untuk menghilangkan praktik perbudakan.
Di dalam Perjanjian Lama, masih ada peraturan-peraturan mengenai budak. Sebenarnya, perbudakan Israel di Perjanjian Lama jauh berbeda dengan perbudakan modern yang pernah terjadi di Eropa atau di zaman Romawi. Di dalam peraturan Israel, pada tahun ketujuh, semua budak juga harus dibebaskan. Artinya, perbudakan sama seperti pekerjaan yang tidak dibayar.
Pada waktu itu memang ada orang-orang yang mau bekerja karena dibayar. Biasanya mereka sedang mengalami kebangkrutan secara ekonomi. Misalnya, ada orang yang mengambil risiko besar dalam usaha, tetapi pada akhirnya dia mengalami kerugian yang besar atau merugikan orang lain, karena sudah tidak ada yang bisa dijual, maka terpaksa ia menjual diri sebagai budak. Menjual diri sebagai budak artinya bekerja kepada orang selama waktu tertentu tanpa mendapatkan upah.
Ketika mereka dibebaskan di tahun ketujuh, menjadi pengharapan bagi orang Israel bahwa mereka bisa terbebas dari kebangkrutan itu. Artinya, kebangkrutan tidak akan menimpa orang Israel seumur hidup mereka. Maksimal ia akan menjadi budak selama enam tahun, setelah itu mereka akan menjadi orang bebas. Budak-budak Ibrani sangat dilindungi oleh hukum Taurat. Ada juga budak-budak perempuan yang dijadikan istri oleh tuannya.
Kita tidak bisa melihat kondisi di Perjanjian Lama dengan menggunakan sudut pandang kondisi pada saat ini. Pada waktu itu, pernikahan seringkali terjadi karena kehendak orang tua. Ketika orang tua mengalami kebangkrutan, maka mereka bisa menjual anak perempuan mereka untuk dijadikan istri orang lain, sebagai cara untuk menebus hutang mereka. Orang tua bisa mengatur pernikahan anak-anaknya tanpa mengerti perasaan anaknya.
Hari ini memang sudah tidak ada perbudakan. Tetapi sebenarnya praktik itu masih ada, hanya saja terselubung. Orang yang bekerja di suatu pekerjaan tertentu, sebenarnya juga sedang diperbudak secara tidak langsung. Orang-orang seperti itu akan sulit untuk berganti pekerjaan. Seringkali juga ada orang-orang yang bekerja tetapi memiliki atasan yang tidak baik. Memang perbudakan sudah tidak ada, tetapi dalam praktiknya, seperti terjadi perbudakan yang terselubung.
Views: 0