Perayaan Roti Tidak Beragi (Jelajah PL 672)

Ulangan 16:3-8

Di dalam 1 Korintus 5:7 dikatakan, “Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.” Pada waktu Yesus Kristus mati, Dia sedang menggenapi Paskah. Karena itu, Paskah lebih mengacu pada kematian Yesus Kristus, bukan kebangkitan Yesus Kristus. Ketika domba Paskah kita sudah disembelih, seharusnya kita membuang ragi yang lama.

Di ayat 8 dilanjutkan, “Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran.” Kemurnian dan kebenaran ini yang membedakan antara Ibadah Simbolik dengan Ibadah Hakikat. Hari ini, tinggal dua simbol yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus, yaitu Baptisan Air dan Perjamuan Tuhan. Simbol ini juga mengacu pada pertobatan serta pengorbanan Yesus Kristus.

Di dalam Perjanjian Lama, hari raya Paskah digabung dengan harii raya Roti Tidak Beragi. Ragi di dalam Alkitab adalah lambang dosa atau penyesatan. Yesus datang untuk menyelesaikan dosa. Karena itu, Paskah diikuti dengan hari raya Roti Tidak Beragi. Setiap tahun, orang Israel harus membuang ragi yang lama. Setelah selesai hari raya Roti Tidak Beragi, orang Israel memulai kehidupan mereka dengan ragi yang baru.

Selain tujuannya demi kesehatan, tetapi yang utama adalah simbolis dari pembuangan ragi itu. Karena itu bisa dipastikan bahwa anggur perjamuan yang digunakan oleh Tuhan Yesus dan para murid-Nya menjelang Paskah, adalah anggur yang murni dan bukan hasil fermentasi karena campuran ragi. Sangat tidak bijak jika orang Kristen hari ini melaksanakan perjamuan Tuhan, tetapi menggunakan anggur yang bisa memabukkan.

Persembahan Paskah itu tidak boleh dipersembahkan di tempat sembarangan. Tuhan akan memilih tempat tertentu untuk perayaan Paskah itu. Belakangan kita tahu bahwa tempat itu adalah kota Yerusalem. Karena itu, umat Israel laki-laki yang sudah akil balik, mereka diharuskan untuk pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi. Kita bisa membaca bahwa pada saat kematian Yesus Kristus, orang Israel dari berbagai tempat sedang berkumpul di Yerusalem, bahkan sampai hari raya Pentakosta.

Hari raya Roti Tidak Beragi sebenarnya juga menggambarkan kehidupan orang percaya pada saat ini. Ketika kita percaya kepada Yesus Kristus, maka kita masuk pada pengudusan karakter. Orang yang sudah percaya kepada Yesus Kristus telah memiliki posisi yang kudus. Setelah itu, orang percaya harus berusaha untuk hidup kudus secara karakter di hadapan Tuhan dan orang lain. Kekudusan karakter ini bukan untuk masuk surga, tetapi untuk kesaksian yang baik di dunia ini.

Jika ada orang yang mengaku percaya kepada Yesus dan sudah diselamatkan tetapi tidak ada kerinduan sedikit pun untuk hidup kudus atau tidak ada perubahan hidup sama sekali, maka pengakuan percayanya itu bisa diragukan. Orang yang bertobat seharusnya menghasilkan buah. Memang orang Kristen yang sudah bertobat, masih bisa jatuh ke dalam dosa. Tetapi jangan sampai dosa itu merupakan dosa yang mendatangkan maut.

Views: 0

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top