Ulangan 21:1-9
Di pasal ini ada kasus pembunuhan. Tuhan mengatur segala sesuatu yang harus dilakukan dalam kasus seperti ini. Kali ini adalah kasus pembunuhan yang tidak diketahui pembunuhnya. Misalnya, ketika ada orang yang mati terbunuh di padang dan tidak ada orang yang menjadi saksi. Bisa saja orang Israel menemukan ada mayat di padang, dengan tanda-tanda kekerasan atau pembunuhan.
Untuk kasus seperti ini, orang Israel harus memastikan dulu tempat kematian orang tersebut. Setelah itu, mereka harus menghitung dengan kota terdekat dari padang itu. Kota yang paling dekat dengan tempat kejadian itulah yang harus mengadakan pendamaian. Tua-tua di kota itu harus mengambil seekor lembu betina yang masih muda. Lembu itu belum pernah dipakai untuk bekerja.
Lembu itu dibawa ke suatu lembah yang berair, yang belum pernah dikerjakan atau ditaburi. Sepertinya orang di kota itu harus mencari lembah terpencil. Lembah itu bukan lembah sembarangan, bukan lembah milik seseorang. Di lembah itu, mereka harus mematahkan batang leher lembu muda itu. Prosedur ini juga mengikutsertakan imam-imam bani Lewi. Setelah itu, tua-tua kota harus membasuh tangannya di atas lembu muda yang batang lehernya dipatahkan di lembah itu.
Pembasuhan tangan ini simbol bahwa mereka tidak bersalah. Mereka melakukan pembasuhan tangan itu sambil memberi pernyataan dengan mengatakan: Tangan kami tidak mencurahkan darah ini dan mata kami tidak melihatnya. Mereka juga sudah mencoba untuk mencari pelaku pembunuhan itu, tetapi mereka tetap tidak mengetahuinya. Jika mereka mengetahui pembunuhnya, maka para tua-tua itu yang akan menuntut pembalasan darah.
Di Perjanjian Baru, ada tokoh yang mencoba untuk menggunakan simbol pembasuhan tangan ini, yaitu Pontius Pilatus. Pada waktu itu Pontius Pilatus menjadi wali negeri atas Yudea. Tuhan Yesus diperhadapkan kepadanya, dituduh dengan berbagai macam tuduhan palsu oleh orang Yahudi. Pilatus berkali-kali sudah berkata kepada orang Yahudi bahwa ia tidak menemukan kesalahan Yesus Kristus.
Seharusnya, sebagai seorang hakim yang adil, Pilatus membebaskan Yesus Kristus, karena memang tidak ditemukan kesalahan apapun atas-Nya. Tetapi Pilatus menyerah pada tekanan orang-orang Yahudi yang semakin tidak terkendali. Bahkan bangsa Yahudi menggunakan nama Kaisar untuk menekan Pilatus. Pilatus akhirnya tidak tahan dengan tekanan itu dan menyerahkan Yesus Kristus untuk disalibkan. Setelah itu Pilatus mengambil air dan mencuci tangannya, seolah-olah ia ingin berkata bahwa dirinya tidak bersalah.
Tetapi yang dilakukan oleh Pilatus tidak murni hati. Secara simbolis, Pilatus bisa saja mencuci tangan berkali-kali. Tetapi hati nuraninya akan tetap menuduhnya bersalah. Karena itu, tua-tua kota seharusnya juga mencuci tangan dengan hati nurani yang murni. Darah yang tercurah itu telah mengotori negeri atau kota secara rohani. Dengan pendamaian itu, maka orang Israel telah melakukan apa yang benar di mata Tuhan.
Views: 0