Nabi dan Pemimpi (Jelajah PL 658)

Ulangan 13:1-3

Israel pada waktu itu memiliki sistem pemerintahan Teokrasi, yaitu sistem pemerintahan yang langsung dipimpin oleh Tuhan. Hukum dan undang-undang yang digunakan selama pemerintahan itu ada di dalam kitab Keluaran sampai Ulangan ini. Salah satu hukum yang paling penting adalah hukum pertama, yaitu “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Jika ada yang melanggar hukum ini, maka hukuman yang dijatuhkan adalah hukuman mati.

Pada masih itu, masih ada nabi dan pemimpi. Seringkali Tuhan berbicara kepada umat melalui nabi atau melalui mimpi. Tuhan pernah berbicara kepada Yusuf dan kepada Firaun melalui mimpi. Semua itu menjadi sarana pewahyuan yang diberikan oleh Tuhan. Seringkali disebut sebagai wahyu progresif, yaitu cara Tuhan berbicara melalui manusia yang berbeda-beda, dari zaman satu dengan zaman yang lain.

Di dalam Ibrani 1:1-2 dikatakan, “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.” Sebagai puncak pewahyuan, Tuhan berbicara melalui Yesus Kristus.

Setelah Yesus Kristus kembali ke Surga, maka firman yang masih ada di bumi ini adalah Alkitab. Dalam Perjanjian Lama, Tuhan sudah membuat kanon bagi kitab Perjanjian Lama. Selama kanon belum tuntas, Tuhan masih mengirimkan nabi, untuk melengkapi kanon Perjanjian Lama. Setelah kanon Perjanjian Lama selesai di kitab Malekahi, maka ada sekitar empat ratus tahun Tuhan tidak berbicara langsung kepada umat melalui nabi atau mimpi.

Sampai saat kedatangan Yesus Kristus, maka Tuhan melanjutkan pewahyuan-Nya. Kedatangan Yesus Kristus merupakan zaman baru, bukan zaman Israel lagi. Wahyu yang melanjutkan Perjanjian Lama adalah Perjanjian Baru. Perjanjian Baru ini bukan menghilangkan Perjanjian Lama, tetapi melengkapi dan menggenapi Perjanjian Lama. Perjanjian Baru menyelesaikan segala sesuatu yang sudah dimulai di Perjanjian Lama.

Setelah Perjanjian Baru selesai kanonisasi, yaitu setelah kitab Wahyu ditulis oleh rasul Yohanes, maka berakhirlah pelayanan para nabi dan rasul di Perjanjian Baru. Tidak ada pewahyuan baru, karena pewahyuan sudah lengkap dan kanonisasi sudah tuntas. Kanon adalah ukuran atau patokan Alkitab, sehingga isi Alkitab tidak diperbolehkan lagi untuk ditambah atau dikurangi.

Pada zaman Israel masih ada nabi dan mimpi yang dari Tuhan. Kalau sekarang, setelah rasul Yohanes meninggal, maka tidak ada lagi nabi, tidak ada lagi pewahyuan, dan tidak ada lagi mimpi dari Tuhan yang bertujuan untuk pewahyuan. Di dalam Pengkhotbah 5:2 dikatakan, “Karena sebagaimana mimpi disebabkan oleh banyak kesibukan, demikian pula percakapan bodoh disebabkan oleh banyak perkataan.” Mimpi hari ini bukanlah pewahyuan atau nubuatan dari Tuhan. Mimpi seseorang tidak bisa menjadi standar kebenaran dan pengajaran.

Views: 0

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top