Menghargai Kesucian Pernikahan (Jelajah PL 696)

Ulangan 22:13-30

Tuhan mempedulikan tentang keperawanan seorang perempuan. Keperawanan seorang perempuan berharga di mata orang Israel, serta berharga di mata Tuhan. Penghargaan seperti ini sudah semakin langka, terutama di negara-negara maju. Di beberapa negara tertentu, perempuan yang masih perawan justru dianggap sebagai orang yang memalukan. Kebiasaan seperti ini terjadi karena mereka memang telah menentang Tuhan.

Di zaman Israel, ketika ada seorang suami yang menuduh istrinya berlaku tidak senonoh, maka orang tua dari gadis itu bisa memperlihatkan tanda-tanda keperawanan gadis itu kepada para tua-tua kota di pintu gerbang. Suami yang memberikan tuduhan palsu itu akan menanggung hukuman, dia akan dihajar dan harus membayar denda seratus syikal perak. Tetapi jika tuduhan itu benar, maka perempuan itu harus dihukum mati dengan cara dilempari dengan batu.

Hukuman ini terkesan sangat keras. Tetapi hukuman ini juga memperlihatkan bahwa Tuhan sangat mempedulikan kesucian pernikahan, yang mungkin pada saat ini sudah dianggap sepele. Di dalam Ibrani 13:4 dikatakan, “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.” Tuhan menganggap hal ini sangat penting.

Keperawanan yang dimaksudkan bukan sekadar fisik, bukan sekadar selaput dara. Apalagi pada saat ini, orang bisa memanipulasi fisiknya, sehingga masih bisa dianggap perawan secara fisik. Seorang perawan sejati adalah seorang gadis yang tidak melanggar firman Tuhan, berusaha untuk menjaga diri dengan baik. Seorang perempuan yang mendapatkan perlakuan jahat (pemerkosaan), bisa tetap dianggap perawan sejati, karena dia tidak memiliki keinginan untuk melanggar firman Tuhan.

Berikutnya dijelaskan secara detail mengenai hukum perzinahan. Peraturan ini dibuat, karena Tuhan sangat menghargai kesucian pernikahan. Di ayat 22 dikatakan, “Apabila seseorang kedapatan tidur dengan seorang perempuan yang bersuami, maka haruslah keduanya dibunuh mati.” Di Israel, hukum ini memang ada tetapi jarang diterapkan. Untuk hukuman mati, diperlukan minimal dua orang saksi. Tidak mudah untuk mendapatkan saksi terhadap perzinahan seperti ini. Apalagi para saksi itu yang diperbolehkan untuk melemparkan batu pertama kali.

Ketika orang Yahudi mencobai Tuhan Yesus dengan membawa orang yang dianggap kedapatan berzinah. Ternyata mereka hanya membawa pihak perempuan dan tidak bisa menghadirkan pihak laki-laki. Tuhan Yesus memberi kesempatan kepada orang Yahudi untuk menjadi pelempar batu pertama. Tidak ada yang berani melempar batu pertama kali, karena tidak ada saksi yang kuat, dan tidak ada pihak laki-laki yang dianggap telah berzinah.

Tuhan juga tidak suka dengan orang yang berbuat jahat dengan cara melakukan pemerkosaan. Orang-orang seperti itu akan mendapatkan hukuman mati dari Tuhan. Perilaku yang hari-hari ini dianggap biasa dan sepele, ternyata diperhatikan oleh Tuhan. Para pelaku mungkin tidak akan mendapatkan hukuman mati di zaman ini, tetapi Tuhan akan menjadi hakim yang adil atas semua hal yang terjadi.

Views: 0

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top