Keluaran 34:6-7
(6) Kemudian TUHAN berlalu di hadapannya sambil berseru, “TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih dan kesetiaan-Nya, (7) yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran, dan dosa tetapi sekali-kali tidak membebaskan orang bersalah dari hukuman, yang membalas kesalahan bapak kepada anak cucunya, sampai kepada keturunan yang ketiga dan keempat.”
Sebagai warga jemaat GKMI, kita patut bersyukur karena tidak hanya memiliki iman secara pribadi, tetapi juga memiliki Asas Kepercayaan yang akan menolong kita untuk memahami iman secara bersama-sama. Asas Kepercayaan ini bukan sekadar dokumen gereja, tetapi akan menjadi salah satu penuntun hidup beriman. Di dalam Asas Kepercayaan itu dinyatakan bahwa Tuhan adalah pencipta segala sesuatu, sumber kehidupan, dan sumber kebenaran.
Untuk mengenal Tuhan yang kita sembah, kita perlu mengenal karakter-Nya yang sudah tercatat di dalam Alkitab. Melalui Alkitab, Tuhan sudah memperkenalkan diri-Nya. Tidak semua “Tuhan” dalam kepercayaan manusia akan memperkenalkan diri. Banyak ilah yang dikenal melalui imajinasi manusia. Hanya Tuhan yang tercatat di dalam Alkitab, yang mau memperkenalkan diri dengan jelas.
Ayat yang sudah kita baca, bukanlah perkataan atau pendapat Musa. Itu juga bukan tafsiran atau imajinasi manusia. Ayat itu menjadi kesaksian dari Tuhan tentang diri-Nya. Jika kita ingin mengenal Tuhan yang benar, maka kita harus mendengarkan atau membaca bagaimana Tuhan memperkenalkan diri-Nya, bukan berdasarkan imajinasi manusia.
Ayat yang kita baca, muncul dalam konteks dan kondisi yang sangat tidak baik. Pada waktu itu, bangsa Israel baru saaj melakukan dosa keji, yaitu menyembah patung lembu emas. Mereka baru saja dibebaskan dari Mesir, baru melihat semua tulah dan mujizat yang dilakukan oleh Tuhan, bahkan baru berjanji untuk setia kepada Tuhan. Tetapi, ketika mereka tahu bahwa Musa tidak segera turun dari gunung Sinai, mereka panik. Mereka mendesak Harun untuk membuat ilah sendiri.
Ketika kita membaca kisah ini, kita mungkin dengan mudah berkata bahwa bangsa Israel memang pantas untuk dihukum. Tetapi justru melakukan hal yang berbeda: Ia memanggil Musa kembali, memberi dua loh batu yang baru serta memperbaharui perjanjian-Nya. Inilah karakter Tuhan yang sedang dinyatakan. Karakter itu dinyatakan bukan pada saat manusia sedang berhasil, tetapi justru pada saat manusia sedang gagal.
Tuhan menyebut diri-Nya sebagai penyayang dan pengasih. Artinya, Tuhan tidak mau bersikap dingin atau menjauh dari manusia. Ia melihat manusia, peduli dengan manusia, dan tergerak oleh belas kasihan. Sama seperti seorang anak kecil yang terjatuh pada saat belajar berjalan, orang tua akan mengangkat anak itu, memelukknya, dan menolongnya untuk berdiri kembali. Seperti itulah kasih Tuhan. Lebih dari itu, Tuhan tidak membenarkan dosa, tetapi Ia tidak mau menutup hati terhadap manusia yang berdosa.
Selanjutnya, Tuhan menyatakan diri panjang sabar. Panjang sabar artinya bukan sabar yang sebentar, tetapi sabar yang sudah diuji berkali-kali. Kita bisa membaca kisah bangsa Israel yang berkali-kali melakukan sungut-sungut kepada Tuhan melalui Musa, bangsa Israel yang tidak percaya kepada pertolongan atau janji Tuhan, mereka menolak pimpinan Tuhan dan bahkan mau mengganti Tuhan. Tetapi, Tuhan tetap menyertai mereka.
Tuhan kita berlimpah dengan kasih dan setia. Kasih Tuhan selalu berjalan beriringan dengan kesetiaan-Nya. Kasih tanpa kesetiaan akan menjadi perasaan sesaat. Kesetiaan tanpa kasih akan menjadi kewajiban kosong. Tuhan memiliki kasih yang setia. Sekalipun bangsa Israel atau kita tidak setia, Tuhan tetap setia pada perjanjian-Nya. Ini yang menjadi dasar pengharapan bagi kita hari ini.
Tuhan mau mengampuni, tetapi tetap bertindak adil. Di ayat 7 dikatakan bahwa Tuhan mengampuni dosa, tetapi tidak membebaskan orang bersalah dari hukuman. Ini tidak bertolak belakang. Tuhan akan mengampuni orang yang mau bertobat dengan sungguh-sungguh. Tetapi Tuhan tetap adil terhadap mereka yang sengaja mengeraskan hati. Biasanya, orang tua yang mengasihi anaknya, akan mengampuni anak yang mau menyesal, tetapi tetap memberi disiplin jika anak itu terus memberontak. Kita perlu ingat bahwa Tuhan tidak mau dipermainkan. Ia penuh kasih, tetapi ia juga benar dan penuh kuasa. Ia bukan hanya tahu apa yang kita lakukan, tetapi juga yang kita pikirkan dan rencanakan.
Semua karakter yang tercatat di dalam Keluaran 34:6-7, dinyatakan dengan sempurna dalam Yesus Kristus. Yesus Kristus telah mengampuni orang berdosa, merangkul orang yang tertolak, serta mati di kayu salib demi pengampunan manusia. Yesaya 1:18 mengatakan, “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Salib menjadi bukti bahwa Tuhan kita benar-benar panjang sabar, penuh kasih, dan setia.
Dari karakter Tuhan ini kita bisa belajar dan meneladani karakter-Nya:
Belajar mengasihi, karena kasih bukan hanya perasaan, tetapi tindakan nyata. Belajar menguasai diri, tidak cepat marah dan tidak mudah untuk menghakimi (menilai orang dari luar saja). Belajar konsisten dan tulus, karena kasih itu bukan sesaat, tetapi seumur hidup.
Views: 0