Ulangan 11:1
Tuhan mengingatkan kembali perintah utama. Perintah ini juga diingatkan oleh Tuhan Yesus di Perjanjian Baru. Perintah ini sudah muncul sebelumnya di dalam Ulangan 6:4-5. Ini menjadi hukum yang terutama, sehingga sering diulang dan ditekankan dalam pengajaran. Memang pengajaran tentang kebenaran perlu diulang-ulang. Manusia itu sangat mudah melupakan pengajaran. Pengulangan juga penting disampaikan, supaya memberi pengajaran kepada generasi-generasi berikutnya.
Mengasihi Tuhan adalah perintah dan keharusan. Perintah ini bukan pilihan. Kalau kita membandingkan konsep kasih Tuhan dengan konsep kasih di dunia ini, ternyata sangat berbeda. Bisa saja kita lebih terpengaruh dengan konsep kasih yang diajarkan oleh dunia ini. Kasih atau cinta yang ada di dunia ini didefinisikan sebagai sebuah perasaan atau emosi. Orang yang sedang mengalami perasaan ini sering disebut sedang “jatuh cinta.”
Konsep dunia ini, kasih atau cinta sering dianggap berada di luar kendali manusia. Karena itu, istilah yang dipakai adalah “jatuh cinta”, seolah-olah perasaan itu tidak terkendali atau tidak sengaja. Jelas konsep ini berbeda dengan konsep Alkitab. Menurut firman Tuhan, kasih itu bukan sekadar emosi, tetapi lebih dari itu. Kasih adalah sebuah keputusan, kehendak, komitmen atau ketetapan hati pribadi, terutama untuk mengasihi Tuhan.
Selain kasih kepada Tuhan, perintah ini juga untuk kasih kepada sesama. Misalnya, dalam hubungan suami istri, jika kasih yang mendasari pernikahan itu adalah konsep dunia, maka pernikahan itu tidak akan bertahan lama. Memang ada banyak faktor yang menyebabkan keluarga berantakan. Tetapi, faktor utama dari keluarga yang hancur adalah kesalahan mengerti konsep kasih. Sekali lagi, kasih sejati itu berada di dalam kendali kita, karena itu keputusan atau komitmen pribadi kita.
Kasih itu tidak bisa berimbang atau sama, tergantung dari hubungan masing-masing individu. Misalnya, kasih antara orang tua dan anak tentu tidak sama dengan kasih antara anak dan orangtua. Bentuknya juga berbeda. Orang tua bisa mengasihi anak dengan cara mengajarkan disiplin serta memberikan kecukupan kepada mereka. Anak bisa mengasihi orang tua dengan cara menaati serta menghormati orang tua.
Akan berbeda ketika kasih ini diterapkan dalam hubungan suami istri, atau hubungan yang lainnya. Istri mengasihi suami ketika ia mau tunduk kepada suaminya dalam segala sesuatu. Berbeda dengan suami yang mengasihi istri, harus selaras dengan kasih Kristus kepadanya. Memang sepertinya firman ini tidak populer di masa sekarang, apalagi dengan adanya emansipasi perempuan dan kesetaraan gender.
Kasih yang tidak sama ini juga muncul dalam hubungan antara kita dengan Tuhan. Tuhan mengasihi kita dengan cara yang paling ekstrim, yaitu mati berkorban bagi semua umat manusia di dunia ini. Tuhan sudah terlebih dulu mengasihi kita. Sedangkan kita mengasihi Tuhan, sesuai dengan ayat 1, “Haruslah engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia kewajibanmu terhadap Dia dengan senantiasa berpegang pada segala ketetapan-Nya, peraturan-Nya dan perintah-Nya.”
Views: 18