Ulangan 6:6-9
Setelah mengenal dan mengasihi Tuhan, maka tugas kita selanjutnya adalah mengajarkan semua tentang Dia secara berulang-ulang. Kita bisa mengajar tentang Tuhan kepada sebanyak mungkin orang. Tetapi yang paling utama, kita harus mengajarkan itu kepada keluarga kita. Semua perintah itu seharusnya ada di dalam hati orang percaya. Di dalam Mazmur 119:11 dikatakan, “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.”
Pengajaran tentang Tuhan secara berulang-ulang itu sangat penting. Pengajaran itu menjadi tanggung jawab orang yang sudah mengenal dan mengasihi Tuhan. Ada banyak orang Kristen hari ini yang telah gagal meneruskan atau mewariskan iman kepada anak-anaknya. Tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya adalah memperkenalkan Tuhan kepada mereka. Orang tua pasti mengasihi anak-anaknya dan menginginkan yang terbaik bagi mereka. Kita harus ingat yang terbaik dalam hidup ini adalah keselamatan.
Orang tua gagal mewariskan imannya kepada anak-anaknya, biasanya karena mereka sendiri tidak mengenal Tuhan dengan benar. Selain itu, biasanya orang tua juga tidak mengasihi Tuhan dengan segenap hidup mereka. Di sisi lain, secara fisik, orang tua lebih siap untuk mempersiapkan anaknya. Orang tua bekerja keras supaya anaknya bisa mendapatkan makanan atau pendidikan yang layak. Tetapi orang tua sering lupa, bahwa pengajaran rohani sangat penting dalam kehidupan mereka.
Karena itu, di ayat 7 ditekankan dengan keharusan: “Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Pengajaran rohani harus dilakukan secara rutin dan konsisten. Semua ini adalah tugas orang tua. Kita tidak bisa memberikan tugas ini kepada orang lain atau lembaga tertentu.
Bergereja itu penting, karena akan menguatkan pengajaran, ketika kita bergereja dengan pengajaran yang benar. Hanya saja, waktu bagi anak di gereja itu sangat terbatas. Seminggu mungkin hanya satu jam saja, bertemu dengan jemaat yang lain. Di sekolah juga demikian, apalagi jika di sekolah hanya mengajar tentang akademik. Kita tidak bisa mengandalkan lembaga-lembaga itu untuk mengajarkan tentang Tuhan. Kesempatan yang paling banyak dan paling besar untuk memperkenalkan Tuhan adalah di rumah, di dalam keluarga.
Ketika anak-anak masih kecil, belum terlalu banyak aktivitas di luar, ini adalah waktu dan kesempatan yang sangat berharga. Jika kita melewatkan waktu seperti ini, maka tidak akan ada lagi kesempatan bagi kita untuk memberikan pengajaran tentang Tuhan kepada anak-anak. Kita harus sadar bahwa dalam hal rohani, anak-anak tidak bisa mengerti dengan sendirinya. Mereka perlu pendamping. Pendamping yang paling ideal adalah orang tua mereka.
Selain mengajar, kita juga harus menanamkan pengajaran itu dengan baik. Karena itu di ayat 8-9 dikatakan, “Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.”
Views: 22