Ulangan 4:1
Sejarah singkat perjalanan bangsa Israel di padang gurun sudah dibahas dan diulang di pasal 1-3. Di pasal ini, Musa fokus pada firman Tuhan serta pengalaman rohani nenek moyang mereka. Musa mengingatkan kembali ketetapan dan peraturan yang sudah pernah diajarkan kepada nenek moyang mereka. Firman ini diingatkan sebagai bekal bagi bangsa Israel untuk masuk dan menduduki negeri yang sudah dijanjikan oleh Tuhan, yaitu tanah Kanaan.
Ketetapan, peraturan, atau hukum dari Tuhan seringkali dianggap sebagai bentuk pengekangan. Karena itu, banyak orang menolak dan menentang ketetapan itu. Pada dasarnya, hukum Tuhan adalah hukum yang indah. Hukum ini bukan untuk mengekang, tetapi memberi petunjuk dan arah yang jelas, supaya kita tidak terjebak atau jatuh dalam hal-hal yang tidak baik. Di dalam Mazmur 19:7 dikatakan, “Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.”
Ayat tersebut dilanjutkan di ayat 8, “Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya.” Musa ingin menjelaskan kepada bangsa Israel bahwa hukum Tuhan itu seperti pelita yang menerangi kegelapan. Firman Tuhan ini perlu diajarkan dan dilakukan, supaya bangsa Israel hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepada mereka oleh TUHAN, Allah nenek moyang mereka.
Tujuan diberikan hukum, supaya manusia bisa hidup dengan baik dan benar di hadapan Tuhan. Hukum itu merupakan ekspresi dari Tuhan. Jika kita keluar dari hukum Tuhan, sama artinya kita sudah terlepas dari Tuhan. Ketika kita tidak menaati hukum itu, maka kita sedang melawan Tuhan. Ketika suatu ciptaan bermusuhan dengan Pencipta, maka ciptaan itu akan mati. Ciptaan itu dengan sendirinya akan binasa, karena tidak memiliki hubungan lagi dengan Pencipta.
Tema di dalam pasal ini adalah kasih dan ketaatan. Tuhan sedang menunjukkan kasihnya kepada manusia, dengan cara memberikan hukum. Tuhan mengasihi manusia, seharusnya manusia juga mengasihi Tuhan dari dirinya sendiri. Karena itulah, Tuhan memberikan manusia kehendak bebas. Dari semua ciptaan Tuhan, manusia merupakan ciptaan tertinggi yang diberikan hati nurani, akal budi, dan kehendak bebas. Ketika manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Tuhan, maka manusia berpotensi memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan.
Manusia bisa memiliki hubungan dengan makhluk lain. Tetapi hubungan itu tidak akan sedalam hubungan antar manusia, bahkan antara manusia dengan Tuhan. Tuhan menciptakan manusia segambar dan serupa dengan-Nya, karena Tuhan ingin memiliki hubungan pribadi, saling mengasihi antara Tuhan dengan manusia. Untuk saling mengasihi, diperlukan kehendak bebas. Makhluk yang berkehendak bebas memiliki potensi untuk melawan kehendak Tuhan.
Dalam hal ini, Tuhan telah mengambil risiko. Tuhan maha tahu, sehingga tahu semua yang akan terjadi. Tuhan tahu bahwa pada akhirnya manusia yang diciptakan sempurna itu akan melawan Dia. Tuhan juga tahu, melalui penebusan dan keselamatan yang diberikan, akan ada orang-orang yang bertobat dan kembali kepada rancangan yang semula, yaitu orang-orang yang mengambil keputusan untuk mengasihi Tuhan.
Views: 21