Memberontak Dalam Hadirat Tuhan (Jelajah PL 641)

Ulangan 9:8-16

Di gunung Horeb atau Sinai, bangsa Israel telah membuat Tuhan gusar. Pada waktu itu Tuhan sangat murka dan bahkan ingin segera memunahkan bangsa Israel, karena mereka telah berbalik dari Tuhan dan memilih untuk menyembah patung anak lembu emas. Pada saat itu, Musa sedang berada di atas gunung Sinai untuk menerima perjanjian Tuhan. Musa tidak makan dan minum selama empat puluh hari empat puluh malam. Tentu pada waktu itu Musa ditopang secara ajaib oleh Tuhan, sehingga tidak perlu makan dan minum selama itu.

Pada waktu itu Musa berada di puncak gunung untuk bertemu dengan Tuhan. Yosua berada di pertengahan gunung itu, karena pada waktu itu Yosua menjadi abdi Musa. Sedangkan bangsa Israel bersama dengan Harun, berada di bawah gunung itu. Selama empat puluh hari empat puluh malam itu, bangsa Israel menjadi gelisah. Mereka kebingungan untuk beraktivitas. Mereka juga tidak mengetahui kabar dari Musa. Karena kegelisahan hati mereka, maka bangsa Israel memaksa Harun untuk menjadikan ilah bagi mereka.

Loh batu yang dibawa oleh Musa itu benar-benar langsung ditulis dengan jari Tuhan. Sepertinya ini adalah Kristofani, yaitu wujud Yesus Kristus sebelum Ia datang sebagai manusia. Di loh batu itu tertulis segala firman yang diucapkan Tuhan kepada bangsa Israel. Tetapi loh batu itu sepertinya tidak efektif, karena pecah juga. Karena itu di dalam 2 Korintus 3:3 dikatakan, “Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.”

Karena ketegaran hati bangsa Israel, maka Tuhan memiliki rencana untuk memunahkan bangsa Israel dan menghapuskan nama mereka dari kolong langit. Tuhan akan membuat dari keturunan Musa, suatu bangsa yang lebih berkuasa dan lebih banyak dari pada bangsa Israel itu. Pada waktu berada di gunung Sinai, Tuhan menampakkan diri dalam bentuk nyala api. Empat puluh hari empat puluh malam, gunung itu masih menyala seperti api. Hadirat Tuhan masih ada di situ.

Sebenarnya orang-orang Israel masih bisa melihat nyala api dari gunung itu. Tetapi mereka sudah cepat melupakan janji Tuhan dan membuat patung. Perilaku seperti inilah yang sangat mengecewakan. Pada waktu itulah Musa turun dari gunung yang sedang menyala, dengan kedua loh perjanjian berada di tangannya. Musa melihat bahwa pada waktu itu bangsa Israel telah membuat anak lembu tuangan serta menyembahnya.

Jika kita membaca kembali kisah ini di dalam kitab Keluaran 32, orang-orang Israel menekan Harun untuk membuat patung bagi mereka. Di ayat 2, Harun berkata, “Tanggalkanlah anting-anting emas yang ada pada telinga istrimu, anakmu laki-laki dan perempuan, dan bawalah semuanya kepadaku.” Perempuan wajar mengenakan anting-anting, tetapi laki-laki?

Kita harus tahu bahwa anting-anting pada laki-laki, memiliki kaitan erat dengan penyembahan berhala. Di dalam Kejadian 35:4 dikatakan, “Mereka menyerahkan kepada Yakub segala dewa asing yang dipunyai mereka dan anting-anting yang ada pada telinga mereka, lalu Yakub menanamnya di bawah pohon besar yang dekat Sikhem.”

Views: 33

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top