Loh Batu dan Loh Hati (Jelajah PL 642)

Ulangan 9:17-20

Melanjutkan pembahasan sebelumnya mengenai anting-anting, maka kita sebagai umat percaya di zaman gereja dan Perjanjian Baru, jangan sampai kita mengikuti dunia ini. Terutama bagi laki-laki, jangan ikut-ikutan memakai anting-anting di telinga. Semuanya itu erat kaitannya dengan penyembahan berhala. Jika hari ini, erat kaitannya dengan penyimpangan perilaku seksual. Karena itu, sebagai orang Kristen, jangan kita menyerupai dunia ini.

Kita ingat kembali, pada waktu itu Harun menerima semua anting emas itu dan membuat anak lembu tuangan. Bahkan Harun juga berani berkata di dalam Keluaran 32:4, “Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!” Melihat semua tindakan orang Israel itu, maka Musa melemparkan dua loh batu dan memecahkannya di depan mata bangsa Israel. Baru saja perjanjian diadakan, sudah dilanggar oleh bangsa Israel.

Keselamatan kita bukan karena hasil usaha kita. Tetapi setelah kita menerima keselamatan itu, bukan berarti kita bebas untuk melakukan perbuatan dosa. Loh batu itu bisa hancur, tetapi firman yang ada di loh hati manusia, tidak akan hancur. Orang-orang yang sudah bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus, akan memiliki hati nurani yang lebih peka. Mereka telah mendapatkan firman itu di dalam hatinya. Firman di dalam hati itu yang menegur mereka dengan keras, jika tidak mau melakukan kehendak Tuhan.

Kita taat kepada Tuhan bukan sebagai syarat mendapatkan keselamatan. Keselamatan itu bukan berasal dari kita. Tetapi, ketika kita sudah mendapatkan keselamatan, bukan berarti kita bebas melakukan perbuatan dosa. Setelah percaya, seharusnya kita melakukan hukum-hukum Tuhan dengan taat dan setia. Jika ada orang mengaku percaya dan menjadi Kristen, tetapi hidupnya tidak ada perubahan, sebenarnya dia belum percaya dengan sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus.

Musa gentar dan takut akan Tuhan, karena dia tahu kekudusan Tuhan. Musa tahu bahwa Tuhan tidak suka dengan dosa dan akan menghukum orang yang berdosa. Musa akhirnya kembali kepada Tuhan, sujud di hadapan Tuhan untuk kedua kalinya selama empat puluh hari empat puluh malam. Musa juga tidak makan dan minum. Semua itu dilakukan untuk membela bangsa Israel yang telah melakukan kejahatan di mata Tuhan.

Musa tahu bahwa hukuman Tuhan sangat berat, yaitu Tuhan memiliki rencana untuk memunahkan bangsa Israel. Tuhan memohon ampun bagi bangsa Israel, supaya Tuhan tidak jadi memunahkan bangsa itu. Sama dengan pada saat ini, kita tidak boleh mempermainkan Tuhan. Kita juga tidak boleh bermain-main dengan dosa. Semua perilaku kita memiliki konsekuensi. Jika kita tetap membuat Tuhan marah, maka kita pun akan mengalami murka Tuhan.

Doa Musa sangat berpengaruh, bahkan seolah-olah mengubah rencana Tuhan yang menghendaki kepunahan bangsa Israel. Sebagai orang percaya, kita mendapatkan kesempatan untuk berdoa. Tuhan itu berdaulat dan maha tahu. Tuhan berhak melakukan apa saja di dunia ini. Tetapi, Tuhan memberi kesempatan kepada kita untuk meminta kepadanya. Tuhan juga bersedia untuk mengabulkan doa kita.

Views: 19

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top