Ulangan 18:6-12
Para imam, selain dapat dari persepuluhan, mereka juga mendapat bagian dari korban sembelihan. Ketika bangsa Israel memberi persembahan sembelihan, ada bagian-bagian tertentu yang harus dibagi dan ditujukan secara khusus. Bagian Tuhan akan dibakar habis, biasanya lemak-lemaknya. Ada bagian yang diberikan kepada imam, yaitu paha depan, kedua rahang, dan perut besar. Sisa yang lain biasanya dikembalikan kepada orang yang sudah membawa persembahan itu untuk dimakan.
Setelah bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian, maka mereka tidak boleh berlaku seperti bangsa-bangsa yang sudah menduduki tanah Kanaan itu. Sama dengan kondisi saat ini, kita sebagai orang percaya juga tidak boleh serupa dengan dunia ini. Tanah Kanaan pernuh dengan berbagai kejahatan, sehingga Tuhan memusnahkan bangsa-bangsa yang tinggal di tanah itu. Ini adalah bentuk hukuman Tuhan terhadap orang-orang yang berlaku keji.
Kejahatan dan kekejian bangsa-bangsa Kanaan itu dicatat beberapa: mempersembahkan anak-anak sebagai korban dalam api kepada dewa Molokh, menjadi petenung, peramal, penelaan, penyihir, pemantera, bertanya kepada arwah dan roh peramal, meminta petunjuk kepada orang mati. Sebagian besar melakukan praktik okultisme dan berhubungan dengan roh-roh jahat.
Petenung adalah orang yang mencoba untuk melihat masa depan, mirip dengan peramal dan penelaah. Kemungkinan metode yang digunakan antara petenung, peramal, dan penelaah ini berbeda. Di dunia ini tidak ada yang mengetahui masa depan. Hanya Tuhan yang berkuasa dan maha tahu tentang masa depan. Karena manusia sangat ingin tahu kehidupan di masa depan, sehingga mendorong manusia untuk mencari tahu dengan kuasa-kuasa kegelapan.
Dengan tidak mengetahui masa depan, Tuhan ingin supaya kita benar-benar bergantung dan berserah kepada Tuhan. Ramalan ingin melawan dan menyamai Tuhan. Ramalan dan penyihir seringkali memanipulasi kuasa Tuhan untuk kepentingan diri sendiri. Orang belajar okultisme supaya kelihatan kaya dan berkuasa, kelihatan memiliki mujizat atau kemampuan supranatural. Hal ini sangat berbeda dengan iman, yang sepenuhnya mengandalkan Tuhan.
Kita tidak harus membandingkan antara ramalan cuaca dengan ramalan nasib. Ramalan cuaca menggunakan ilmu pengetahuan yang dapat dihitung dan diperkirakan. Tentu ramalan cuaca juga tidak akan selalu benar. Bencana alam tertentu juga bisa diramalkan (biasanya disebut dengan deteksi dini), supaya orang-orang di sekitar tempat itu bisa mempersiapkan diri dengan baik, supaya tidak menjadi korban bencana alam.
Kita juga harus bisa membedakan ilmu astronomi dengan astrologi. Astronomi bisa digunakan untuk melihat keadaan berdasarkan posisi benda-benda di langit. Tetapi astrologi, digunakan untuk meramalkan nasib orang. Yang tidak berkenan di hadapan Tuhan adalah ramalan nasib, karena nasib seseorang ditentukan oleh Tuhan, bukan oleh hal-hal lain. Orang yang meramalkan nasib, seringkali menggunakan kuasa kegelapan. Ada juga yang berbohong. Anehnya, ramalan itu bisa terjadi. Hal seperti ini yang perlu kita waspadai, supaya tidak terjerumus pada kekejian bagi Tuhan.
Views: 0