Kekejian Bagi Tuhan (Jelajah PL 657)

Ulangan 12:29-32

Bagaimana dengan zaman sekarang, apakah tetap tidak diperbolehkan makan darah? Di dalam Markus 7:15,18-19 dikatakan, “Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya. Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban? Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal.”

Meskipun demikian, darah sebenarnya tidak memiliki nutrisi yang baik. Darah sebenarnya tidak perlu dimakan, bukan tidak boleh. Alasannya bukan karena menajiskan, tetapi lebih kepada kesehatan, atau berhikmat dalam mengkonsumsi segala sesuatu. Kita tidak bisa memeriksa semua makanan yang akan kita makan. Kita bisa mengkonsumsi semua makanan, tentu dengan penuh hikmat, karena makanan yang kita makan akan memengaruhi kesehatan kita, memiliki dampak tertentu pada tubuh kita.

Ada peringatan bahwa bangsa Israel tidak boleh serupa dengan bangsa-bangsa lain di tanah Kanaan. Padanannya bagi kita ada di dalam Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Sebagaimana dengan Israel, kita tidak boleh meniru cara-cara orang yang menentang Tuhan.

Kita saat ini juga tidak boleh meniru cara dunia serta filosofi dunia yang menentang Tuhan. Ada musik duniawi yang penuh dengan pemberontakan dan kita tidak perlu menirunya atau menyanyikannya. Ada film-film duniawi yang menggambarkan perilaku yang bertentangan dengan firman Tuhan, sehingga kita tidak perlu menontonnya. Ada cara-cara dunia yang mempertontonkan kekerasan atau okultisme, kita tidak perlu melakukan hal yang sama seperti itu.

Segala sesuatu yang menjadi kekejian bagi Tuhan, jangan pernah dilakukan. Pada zaman Israel, kekejian bagi Tuhan yang disebutkan antara lain: bangsa-bangsa lain beribadah kepada ilah-ilah dengan cara yang tidak manusiawi, seperti mempersembahkan anaknya laki-laki atau perempuan dengan cara membakarnya dengan api bagi ilah mereka. Perilaku seperti ini sangat jahat dan bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Di dalam sejarah Israel, ternyata bangsa Israel jatuh beberapa kali dalam kekejian ini. Misalnya, raja Ahas dalam 2 Raja-raja 16 pernah mempersembahkan anaknya sendiri. Salomo pernah mengizinkan salah satu istrinya untuk mendirikan mezbah untuk Molokh. Akhirnya Tuhan menghukum bangsa Israel, bahkan sampai dibuang, karena kesalahan-kesalahan itu.

Ini adalah pelajaran yang indah bagi kita. Sepatutnya kita mengasihi Tuhan dengan cara melakukan setiap firman dan ketetapan yang sudah diberikan. Kita menghindari segala sesuatu yang menjadi kekejian bagi Tuhan. Kita menyembah Tuhan dalam roh dan kebenaran, sesuai dengan firman Tuhan untuk zaman gereja hari ini.

Views: 0

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top