Ulangan 14:1
Konsep mengenai anak Tuhan akan ditegaskan lagi di dalam Perjanjian Baru. Misalnya, di dalam Yohanes 1:12 dikatakan, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;” Ketika kita percaya kepada Yesus Kristus, maka kita diberi kuasa atau otoritas untuk menjadi anak-anak Allah. Di dalam Perjanjian Lama, konsep ini sudah mulai diperkenalkan.
Ketika kita bisa membaca dari keseluruhan Alkitab, kita bisa lebih mengerti dibandingkan dengan orang Israel. Ketika para murid meminta supaya Tuhan Yesus mengajarkan doa, maka kalimat pertama yang disampaikan adalah “Bapa kami yang di Surga.” Bagi orang Yahudi, panggilan Bapa yang ditujukan kepada Tuhan, bukanlah hal yang biasa. Orang Yahudi sangat hormat dan takut dengan Tuhan, karena mereka mengingat untuk tidak menyebut nama Tuhan dengan sembarangan.
Orang Yahudi tidak terbiasa untuk menyapa Tuhan sebagai Bapa mereka. Tetapi itulah yang Tuhan Yesus ajarkan. Ketika kita datang sebagai anak, maka kita memiliki kehormatan yang besar di hadapan Tuhan. Selain kehormatan, posisi sebagai anak Tuhan juga memiliki konsekuensi dan tanggung jawab tertentu. Seandainya kita menjadi anak raja atau anak presiden, memiliki status dan kebanggaan yang berbeda. Tetapi di sisi lain, anak itu memiliki tanggung jawab tersendiri, seperti menjaga nama baik orang tuanya di hadapan orang lain.
Apalagi kita, memiliki posisi sebagai anak dari Bapa di Surga. Tanggung jawab kita sebagai anak Tuhan adalah tidak menjadi serupa dengan dunia ini. Dunia ini sedang memusuhi Tuhan, menjadi seteru Tuhan. Dunia selalu dinyatakan berlawanan dengan Tuhan, karena dunia ini penuh dengan dosa. Pada saat itu ada tanggung jawab secara fisik, dikatakan, “Janganlah kamu menoreh-noreh dirimu ataupun menggundul rambut di atas dahimu karena kematian seseorang;”
Pada waktu itu, bangsa-bangsa di Kanaan memiliki ritual-ritual kematian yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Biasanya orang-orang itu akan melukai diri sendiri, dengan cara menoreh-noreh kulit. Tuhan tidak ingin orang Israel berperilaku seperti bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Orang Israel harus berbeda dari segi apapun, termasuk dari segi fisik yang kelihatan. Ini bukan sekadar masalah rambut, tetapi masalah identitas diri yang tampak.
Di dalam Roma 12:1-2 dikatakan, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Di dalam Yakobus 4:4 dikatakan, “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” Karena itu, kita harus benar-benar memperhatikan hal ini, tidak menjadi serupa dengan kebiasaan dunia.
Views: 0