Ulangan 25:1-4
Tuhan memberi peraturan tentang hukuman yang bisa dilaksanakan oleh Israel, yaitu hukum pukul atau dera. Biasanya, hukum pukul ini menggunakan tongkat atau cambuk. Jika ada seseorang yang melakukan kesalahan dengan hukuman tidak setimpal dengan hukuman mati, maka ada hukuman pukul. Cara hukumannya, orang tersebut disuruh tiarap dan mendapat pukulan di bagian belakang tubuh.
Untuk hukum pukul atau dera ini, ada batas maksimum, yaitu empat puluh kali. Jika pemukulan lebih dari itu, akan merendahkan martabat orang yang terkena hukum itu. Selain itu, akan ada risiko kematian atau cedera parah. Dalam praktiknya, orang-orang Yahudi ketika menjalankan hukum ini, biasanya mereka berhenti di hitungan tiga puluh sembilan pukulan atau empat puluh kurang satu. Mereka takut salah hitung, lalu melebihi dari peraturan yang sudah ditetapkan.
Pada waktu rasul Paulus menyebutkan kesusahan dan penderitaan yang dialami pada saat menjadi rasul Yesus Kristus, ia juga menyebut hal ini. Di dalam 2 Korintus 11:24-25 dicatat, “Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut.”
Ketika mendapat hukuman dari orang-orang bukan Yahudi, di ayat 23 disebutkan bahwa Paulus didera di luar batas. Batasan pemukulan yang diatur oleh Tuhan membuat orang tidak semena-mena. Tuhan tetap memperhatikan keadilan. Tuhan mengatur semua ini, supaya orang tidak menggunakan hukum untuk kepentingan sendiri.
Selanjutnya Tuhan memberi ketetapan supaya orang Israel tidak memberangus mulut lembu yang sedang mengirik. Biasanya gandum perlu diirik atau digerus. Untuk melakukan pengirikan, diperlukan alat pengirik. Alat ini biasanya terbuat dari batu yang bisa diputar dengan mendorong kayu yang ditempelkan di batu itu. Untuk mendorong putaran batu itu, diperlukan tenaga yang cukup kuat. Jika orang tersebut memiliki lembu, ia akan mempekerjakan lembu itu untuk mendorong putaran batu.
Tuhan ternyata juga memperhatikan lembu. Lembu itu sedang bekerja untuk manusia. Seandainya lembu itu bekerja sambil makan sedikit demi sedikit, maka orang itu tidak boleh menutup mulut lembu itu. Paulus menggunakan aturan ini untuk mengajarkan bahwa Tuhan sangat peduli kepada manusia. Di dalam 1 Korintus 9:9 dikatakan, “Sebab dalam hukum Musa ada tertulis: Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik! Lembukah yang Allah perhatikan?”
Prinsip ini diajarkan oleh Paulus untuk diterapkan kepada manusia, terutama dalam hal pemberitaan Injil. Di ayat 14 dijelaskan, “Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.”
Views: 0