Dosa dan Konsekuensinya (Jelajah PL 647)

Ulangan 10:8-9

Di dalam Perjanjian Lama, pengantara itu adalah tugas dari imam. Bangsa Israel perlu pengantara. Mereka sudah berdosa, melukai hati Tuhan, sehingga perlu pengantara untuk mendamaikan mereka. Pengantara bangsa Israel pada waktu itu adalah Musa, sebagai orang dari keturuna suku Lewi. Musa berdoa dan sujud di hadapan Tuhan selama empat puluh hari empat puluh malam, supaya Tuhan memberi pengampunan kepada bangsa Israel. Akhirnya Tuhan mengabulkan permohonan Musa.

Ketika kita berbuat dosa, kita bisa dipulihkan kembali. Tetapi konsekuensi dari perbuatan dosa itu bisa tetap berlaku dan berdampak. Misalnya, Harun yang mengikuti desakan bangsa Israel dan memperkenalkan bahwa patung tuangan itu adalah Tuhan, akhirnya Harun tidak diperkenankan untuk masuk ke tanah Kanaan. Musa yang melanggar perintah Tuhan yang sepertinya “sepele”, tetapi telah melanggar kekudusan Tuhan, sehingga ia tidak bisa masuk ke tanah Kanaaan.

Tokoh lain, seperti Daud, dia telah berbuat dosa dan bahkan telah mengaku serta bertobat kepada Tuhan. Tuhan memulihkan Daud, tetapi konsekuensi dari perbuatannya itu tetap ada. Salah satu konsekuensinya, pedang tidak akan lepas dari keluarga Daud. Dalam perjalanan hidupnya, terjadi perang saudara antara anak-anak Daud. Bahkan anak Daud juga ingin membunuh Daud.

Israel memang memerlukan imam besar untuk menjadi pengantara mereka. Berbeda dengan kita saat ini yang memiliki Imam Besar jauh lebih hebat daripada imam besar yang dimiliki oleh bangsa Israel pada waktu itu, yaitu Yesus Kristus.

Di zaman Perjanjian Lama, Tuhan menunjuk suku Lewi untuk mengangkat tabut. Hal ini memang berkaitan dengan peristiwa lembu emas. Pada saat Musa marah melihat bangsa Israel yang kacau balau karena menyembah lembu emas, suku Lewi segera maju pada saat Musa bertanya tentang siapa yang berada di pihak Tuhan (Keluaran 32:26). Setelah itu, bani Lewi diperintahkan untuk membunuh orang-orang yang secara terang-terangan menyembah berhala itu.

Setelah itu, suku Lewi dikhususkan oleh Tuhan untuk melayani-Nya. Imam juga berasal dari suku Lewi. Suku Lewi diberi tugas untuk melayani Tuhan dan untuk memberi berkat demi nama Tuhan. Karena itu, suku Lewi tidak mempunyai bagian milik pusaka bersama-sama dengan saudaranya yang lain. Tuhan yang menjadi milik pusaka bagi suku Lewi.

Saat ini kita bukan Israel. Kita juga tidak lagi dibedakan dengan suku-suku. Tetapi kita semua memiliki status sebagai imam, bahkan lebih hebat dari suku Lewi pada waktu itu. Tidak semua suku Lewi bisa menjadi imam. Hanya Harun dan keturunannya yang ditetapkan menjadi imam. Berbeda dengan kita saat ini, status kita adalah imamat yang rajani (1 Petrus 2:9). Kita semua memiliki tugas untuk melayani Tuhan.

Kita saat ini tidak mendapatkan bagian di tanah Kanaan. Tetapi kita mendapatkan berkat-berkat rohani oleh Tuhan. Kita adalah imam yang memiliki hubungan langsung kepada Tuhan melalui Yesus Kristus sebagai Imam Besar.

Views: 29

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top