Dampak Negatif Poligami (Jelajah PL 690)

Ulangan 21:15-18

Dari sejak awal, Tuhan memperhatikan harkat dan martabat perempuan. Negara-negara dengan penduduk mayoritas Kristen terkenal dengan perempuan yang memiliki kebebasan dalam berkarya. Hanya saja, karena kebebasan dan liberalisme, maka Iblis seringkali menggunakan perempuan untuk menyerang laki-laki. Saat ini, banyak perempuan menuntut tidak ada perbedaan antara laki-laki dengan perempuan. Bahkan banyak yang mulai melangkahi tugas dan peran yang sudah ditentukan oleh Tuhan.

Selanjutnya ada kasus yang tidak ideal, karena ada persoalan pada suami yang melakukan poligami. Sebenarnya Alkitab sangat menentang poligami. Di awal penciptaan, Tuhan hanya menciptakan dua orang yang sepadan, yaitu Adam dan Hawa. Tidak ada perempuan kedua atau ketiga dalam penciptaan. Di dalam pernikahan, keduanya akan menjadi satu daging, bukan ketiganya atau keempatnya. Tetapi dalam perkembangan sejarah manusia, ada orang-orang yang melakukan poligami.

Pada akhirnya, di Perjanjian Lama, Tuhan mengizinkan hal itu karena kedegilan hati manusia. Setiap kali terjadi poligami, akan selalu ada efek atau dampak negatif yang dirasakan. Poligami pertama yang dicatat adalah Lamekh. Ada orang yang tidak mau poligami, tetapi terpaksa, seperti Abraham. Tetapi praktik poligami ini akan menimbulkan banyak masalah, pertama-tama terjadi konflik dalam keluarga itu. Yakub dan Daud juga mengalami persoalan dalam rumah tangga mereka. Salomo lebih parah lagi.

Tuhan tidak menyetujui poligami. Tetapi di dalam hukum Taurat ada peraturan mengenai poligami, dengan tujuan untuk melindungi pihak yang lemah atau orang yang menjadi korban. Di sini ada kasus seseorang memiliki dua istri, yang seorang dicintai dan yang lain tidak dicintai. Anak sulung ternyata lahir dari istri yang tidak dicintai. Pada saat pembagian harta warisan, ia tidak boleh memberikan bagian anak sulung kepada anak yang bukan sulung, yang lahir dari istri yang dicintai.

Hak kesulungan adalah pemberian dua bagian dari warisan. Misalnya, di keluarga itu ada tiga anak, maka warisannya harus dibagi menjadi empat bagian. Dua bagian akan diberikan kepada anak sulung. Bagian lain, masing-masing satu bagian akan diberikan kepada anak kedua dan ketiga. Di dalam sejarah Israel, posisi hak kesulungan ini seringkali diperebutkan.

Seorang anak harus taat dan hormat kepada orang tuanya. Anak tidak boleh memberontak pada orang tua. Anak yang memberontak kepada orang tua, sama dengan sedang memberontak kepada Tuhan. Kecuali, orang tua itu memang sudah memberontak kepada Tuhan, anak bisa tidak taat kepada orang tua, karena lebih memilih untuk menaati Tuhan.

Pada waktu itu, ketika ada anak yang memberontak kepada orang tuanya, orang tua memiliki hak untuk memberi disiplin kepada anak tersebut. Terkadang orang tua juga perlu memberikan hukuman kepada anak yang tidak bisa diajar dengan baik. Mereka bisa menghajar anak-anak mereka secara fisik. Tentu yang seperti ini tidak lagi diperbolehkan di masa sekarang.

Views: 0

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top