Cerai Kecuali Zinah (Jelajah PL 701)

Ulangan 24:1-4

Hal mengenai perceraian masih sering diperdebatkan sampai saat ini. Secara umum, pengajaran Kristen tidak pernah mendukung perceraian. Hal ini sangat berbeda dengan kepercayaan lain yang memperbolehkan serta memiliki aturan mengenai perceraian. Di pasal ini, ada beberapa hal yang perlu kita pahami mengenai perceraian.

Pasal ini tidak memberi perintah untuk melakukan perceraian, kepada siapa pun dan dalam kondisi apa pun. Tetapi pasal ini ingin menjelaskan jika sudah terjadi perceraian, maka ada aturan yang harus dilakukan. Tuhan tidak pernah memerintahkan perceraian dan Tuhan tidak senang dengan perceraian. Perceraian bukanlah kehendak Tuhan. Tetapi Tuhan ingin melindungi orang-orang, terutama para perempuan yang menjadi korban perceraian.

Jika memang perceraian itu sudah terjadi, maka orang Israel harus melakukan aturan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan ini. Kalau perempuan yang diceraikan itu menjadi istri orang lain, dan ternyata gagal juga dalam pernikahan kedua, maka ia tidak boleh kembali lagi menjadi istri dari laki-laki yang pertama. Jadi, kita harus jelas bahwa pasal ini tidak menganjurkan atau memerintahkan perceraian.

Dalam hal ini, para rabi Yahudi seringkali salah menafsirkan kata “tidak senonoh” di ayat 1. Ini juga yang pernah ditanyakan oleh mereka kepada Tuhan Yesus. Di dalam Matius 19:3 orang Farisi datang untuk mencobai Tuhan Yesus dengan pertanyaan, “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Perkataan “alasan apa saja” inilah yang menjadi penafsiran mereka tentang kata “tidak senonoh.”

Tetapi di dalam Matius 19:4-6 Tuhan Yesus menjelaskan kepada orang Farisi dengan dasar penciptaan manusia. Dari semula, Tuhan sudah merancangkan laki-laki dan perempuan itu menjadi satu daging dengan cara dipersatukan oleh Tuhan. Persatuan itu yang tidak boleh diceraikan oleh manusia.

Di dalam Maleakhi 2:16 dikatakan, “Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel – juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!” Dalam kenyataannya, hari ini banyak orang justru melakukan semua yang telah dibenci oleh Tuhan, termasuk dalam hal perceraian. Di mata hukum dan kehidupan sosial, perceraian itu legal dan sepertinya lebih terhormat daripada selingkuh. Tetapi di mata Tuhan, perbuatan itu tetap dibenci.

Orang percaya tidak pernah mendapatkan izin dari Tuhan untuk menceraikan pasangannya. Di Matius 19:9, seperti ada pengecualian, yaitu bisa bercerai dengan alasan perzinahan. Dalam hal ini, kita juga perlu melihat secara utuh, bahwa dalam hukum Yahudi, orang yang berzinah akan mendapatkan hukuman mati dengan cara dirajam batu. Tetap saja pada akhirnya bahwa perceraian (atau perpisahan) itu terjadi, ketika salah satunya mati.

Views: 0

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top