Burung dan Rumah (Jelajah PL 694)

Ulangan 22:6-8

Selanjutnya ada peraturan yang cukup sepele, tetapi diatur oleh Tuhan pada masa itu. Jika ada orang Israel yang menemui sarang burung, di dalamnya ada telur dan anak-anak burung, maka orang Israel tidak diperbolehkan untuk mengambil induk beserta semua anak-anak burung itu. Paling tidak, orang Israel harus melepaskan induknya dan diperbolehkan untuk mengambil anak-anak burung itu. Dari peraturan ini, kita melihat bahwa Tuhan juga sangat peduli dengan binatang kecil.

Ketika Tuhan memperhatikan hal-hal kecil, sebenarnya ini juga memberikan pengharapan kepada manusia, sebagai ciptaan yang lebih mulia. Tuhan Yesus berkata di dalam Matius 10:29-31, “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.”

Induk burung itu dilepaskan, supaya burung itu bisa kembali bertelur dan memiliki anak. Jika induk burung itu diambil atau dibunuh, maka anak-anak burung itu akan mati, bisa mengakibatkan kepunahan. Manusia berkuasa atas binatang dan bisa menjadikan makanan, tetapi tidak diperbolehkan untuk serakah atau menggunakan kekuasaan itu dengan sembarangan. Ketika manusia bisa menunjukkan belas kasihannya kepada binatang, maka ia pun akan bisa dengan lebih mudah menunjukkan belas kasihan kepada sesama manusia.

Orang-orang yang memiliki penyimpangan perilaku terhadap sesamanya, biasanya sudah muncul tanda-tanda pada saat mereka memperlakukan binatang. Artinya, perintah ini disampaikan oleh Tuhan, supaya manusia memulai segala sesuatu dari hal yang sepele, kecil, atau sederhana. Jika sudah bisa melakukan segala sesuatu yang sederhana dengan baik, maka kita akan lebih mudah untuk melakukan hal-hal yang lebih besar dan kompleks.

Mengenai pendirian rumah yang baru, Tuhan menginginkan supaya orang Israel berlaku hati-hati. Orang Israel juga harus memperhitungkan segala sesuatu dan bertanggung jawab atas semua yang mereka lakukan. Pada saat membangun rumah, mereka diharuskan untuk memagari sotoh rumah. Rumah di zaman Israel pada waktu itu tidak sama dengan rumah yang ada di tempat kita saat ini. Atap rumah di Israel dibuat rata, sehingga orang mudah untuk naik ke atasnya. Itulah yang disebut dengan sotoh.

Di atas sotoh rumah itu (atau atap yang rata), orang bisa melakukan aktivitas di sana. Karena itu diperlukan pagar, untuk menjaga keamanan dan keselamatan dari orang-orang yang naik ke atas sotoh dan beraktivitas di sana. Di zaman modern sekarang, kita juga mendapati peraturan-peraturan yang dibuat pada saat mendirikan bangunan. Karena itu, ada peraturan tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB) atau Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).

Peraturan ini dibuat supaya ketika ada orang yang membangun rumah, maka konstruksinya jelas dan tidak asal-asalan. Semua ini dibuat untuk menghindari kecelakaan, supaya rumah tersebut dipersiapkan dengan baik dan kuat, tidak mudah roboh dan menimbulkan korban. Prinsip ini juga bisa diterapkan pada hal-hal yang serupa, seperti keamanan berkendara, keamanan kerja, dll.

Views: 0

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top