Bunga dan Nazar (Jelajah PL 700)

Ulangan 23:17-25

Berkaitan dengan renungan sebelumnya, sebenarnya mengingatkan sesuai dengan konteks hari ini, sebaiknya gereja juga tidak mencari dana dari “dunia” ini. Seharusnya gereja diberkati dengan cara Tuhan, melalui anak-anak Tuhan. Memang kita bisa saja mendapatkan dana dari orang lain, termasuk dari orang yang belum percaya kepada Tuhan. Pada prinsipnya, kita tidak perlu berinisiatif mencari dana dari orang-orang yang menentang Tuhan. Sebagai orang percaya, jika ada program atau pekerjaan bagi Tuhan, lebih baik kita mengandalkan Tuhan. Akan ada anak-anak Tuhan yang mengasihi Tuhan, akan menyatakan kasih mereka kepada Tuhan melalui gereja.

Orang Israel tidak diperbolehkan untuk memberi pinjaman dengan membungakannya. Tentang hal ini perlu dipahami secara benar, karena Alkitab tidak menentang soal pinjaman dan bunga secara absolut. Ada catatan Alkitab di bagian lain yang membicara secara positif mengenai bunga. Misalnya, Tuhan Yesus memberi perumpamaan tentang talenta. Di Matius 25:27 dikatakan, “Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.”

Di dalam dunia usaha atau bisnis, tidak ada masalah dengan urusan bunga. Hanya saja, kita perlu berpedoman pada aturan pemerintah setempat. Tetapi dalam konteks tolong menolong, membungakan hal-hal tertentu tidak diperbolehkan. Yang dibungakan bukan hanya uang, tetapi juga bahan makanan atau apapun yang dapat dibungakan. Jika menolong orang, seharusnya dilakukan dengan ketulusan hati.

Tuhan menginginkan orang Israel bisa saling tolong menolong. Jangan sampai memberi pertolongan dengan membungakan sesuatu. Bisa saja hal itu justru menjadi semakin memberatkan, bunga berbunga, sampai bunganya lebih besar daripada pokok pinjamannya. Orang tersebut tidak sedang ditolong, tetapi sedang dibuat bangkrut. Hal seperti ini yang sering digunakan oleh rentenir.

Mengenai nazar (atau janji kepada Tuhan), jika sudah bisa dilaksanakan, harus segera dilaksanakan, tanpa menunda. Di Imamat, orang Israel yang bernazar tidak mencukur rambutnya sampai menyelesaikan nazarnya. Tidak mencukur rambut digunakan sebagai pengingat. Jika orang itu rambutnya semakin panjang, maka dipastikan bahwa dia belum memenuhi nazar yang sudah pernah dijanjikan kepada Tuhan.

Tuhan tidak pernah mengharuskan seseorang bernazar bagi Tuhan. Nazar adalah kerelaan hati, bukan paksaan. Bernazar berarti salah satu bentuk kasih kita kepada Tuhan, sehingga kita menjanjikan sesuatu kepada Tuhan. Jika kita tidak bernazar, kita juga tidak melakukan dosa. Jika kita pernah berjanji kepada Tuhan, maka kita harus menepatinya. Seringkali, janji kepada Tuhan ini disampaikan pada saat kondisi terjepit. Jadi, kita pun perlu berhati-hati dalam berjanji.

Dalam hal lain, seorang pemilik kebun di Israel tidak diperbolehkan terlalu pelit pada yang melewati kebun tersebut. Orang yang lewat itu juga tidak boleh keterlaluan. Hal ini pernah dilakukan oleh murid-murid Tuhan Yesus di dalam Matius 12. Orang Farisi marah kepada mereka bukan karena mereka memetik bulir gandum dan memakannya, tetapi karena mereka dianggap melanggar hukum Sabat.

Views: 0

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top