Bersukacita (Jelajah PL 656)

Ulangan 12:8-28

Ketika kita menyembah di dalam kebenaran, artinya kita tidak menyembah Tuhan berdasarkan suka-suka kita, bukan berdasarkan kemauan kita. Ketika kita menyembah Tuhan, seharusnya sesuai dengan cara Tuhan. Di zaman Israel, cara menyembah Tuhan harus di Yerusalem. Jika ada yang menyembah Tuhan di luar Yerusalem, berarti mereka melakukan penyembahan yang tidak benar. Itu yang pernah dilakukan oleh Yerobeam, sehingga Tuhan menghukumnya.

Cara penyembahan kepada Tuhan yang benar, sudah dimulai sejak manusia pertama. Misalnya dalam hal persembahan, kita bisa melihat antara persembahan Kain dengan Habel. Kain mempersembahkan hasil pertanian, sedangkan Habel mempersembahkan kambing domba. Tuhan menerima persembahan Habel, tetapi menolak persembahan Kain. Habel telah mempersembahkan sesuai dengan keinginan Tuhan, sedangkan Kain tidak.

Saat ini, penyembahan kita memang tidak seperti di zaman Perjanjian Lama. Tetapi prinsipnya sama, yaitu tetap menyembah di dalam kebenaran, sesuai dengan cara Tuhan di zaman kita. Prinsip-prinsip kebenaran sudah diajarkan oleh Tuhan Yesus dan para rasul. Kita bisa memperdalam kebenaran-kebenaran itu melalui gereja lokal, tempat kita bersekutu dan bertumbuh bersama pada hari ini.

Bagi orang Israel, Tuhan tidak memperkenankan mereka untuk memberi persembahan di sembarang tempat. Tuhan juga memberi perintah supaya bangsa Israel bersukaria di hadapan Tuhan. Bersukacita dalam Tuhan itu sangat penting dan menjadi perintah juga di dalam Perjanjian Baru. Di dalam 1 Tesalonika 5:16 dikatakan, “Bersukacitalah senantiasa.” Kita bisa bersukacita karena kepastian keselamatan yang sudah kita peroleh. Kita juga bisa bersukacita pada saat berada di tengah kesulitan.

Ketika bangsa Israel masih berada di padang gurun, mereka bisa menyembelih binatang untuk dimakan, di tempat yang dipilih oleh Tuhan, yaitu di Kemah Suci. Karena mereka berada di padang gurun, Kemah Suci itu tidak jauh dari mereka. Tetapi setelah mereka masuk ke tanah Kanaan, maka Bait Suci atau kota Yerusalem, bisa jauh dari mereka. Karena itu, ada aturan baru untuk hal ini, sesuai dengan konteks yang baru.

Aturan baru itu ada di ayat 21, “Apabila tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk menegakkan nama-Nya di sana, terlalu jauh dari tempatmu, maka engkau boleh menyembelih dari lembu sapimu dan kambing dombamu yang diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang kuperintahkan kepadamu, dan makan dagingnya di tempatmu sesuka hatimu.” Hanya saja, darah dari binatang yang disembelih itu tidak boleh diminum atau dimasak dan dimakan.

Darah ialah nyawa. Darah menjadi lambang bagi penebusan. Hampir semua hal di Perjanjian Lama ditahirkan atau dikuduskan dengan darah. Di dalam Ibrani 9:22 dikatakan, “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan,”

Views: 0

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top