Tindakan Iman (Jelajah PL 575)

Bilangan 27:6-14

Ketika Musa meminta petunjuk dari Tuhan, Tuhan memberikan petunjuk itu. Tuhan membenarkan perkataan anak-anak perempuan Zelafehad itu. Milik pusaka itu harus dibagi di antara anak-anak perempuan itu. Jika tidak memiliki anak, milik pusaka itu diberikan kepada saudaranya yang paling dekat. Dengan cara seperti ini, tanah milik pusaka itu akan tetap berada di setiap sukunya. Hal ini menjelaskan bahwa kepemilikan tanah itu adalah Tuhan.

Kita di dunia ini hanya sebagai pengelola atas tanah. Pada saat ini, ketika kita membeli tanah di dunia, seolah-olah tanah itu sudah menjadi hak milik. Karena itu, orang lebih suka jika tanah itu memiliki sertifikat hak milik daripada hak pakai. Sejatinya, Tuhanlah yang memiliki tanah ini. Jika sewaktu-waktu Tuhan menghancurkan bumi ini, maka kita tidak akan bisa menuntut apa-apa.

Yang menonjol dari anak-anak perempuan Zelafehad ini adalah iman mereka. Tindakan mereka dengan bertanya kepada Musa terhadap permasalahan mereka merupakan tindakan iman. Meskipun ayah mereka tercatat sebagai orang yang tidak beriman, sudah mati karena dosanya sendiri, karena telah memberontak di Kadesh Barnea dan tidak mau masuk ke tanah Kanaan. Tetapi anak-anak perempuannya beriman kepada Tuhan. Anak-anak perempuan ini sudah bisa memikirkan tanah warisan yang akan Tuhan berikan kepada ayah mereka di tanah Kanaan. Pada saat itu, mereka belum masuk ke tanah Kanaan. Mereka masih berada di seberang sungai Yordan.

Anak-anak perempuan ini sudah bisa melihat bahwa Tuhan akan memberikan milik pusaka kepada ayah mereka di tanah Kanaan. Iman anak-anak perempuan ini berbeda dengan ayahnya dan generasi sebelumnya yang meragukan akan masuk ke tanah Kanaan dan memiliki tanah pusaka. Generasi sebelumnya menggambarkan bahwa tidak mungkin mereka bisa masuk ke tanah Kanaan. Mereka menggambarkan diri seperti belalang di hadapan orang-orang yang menduduki tanah Kanaan pada waktu itu.

Peraturan pada waktu itu, anak perempuan tidak akan mendapatkan warisan tanah jika dalam keluarga itu ada anak laki-laki. Peraturan ini bukan tidak adil, karena pada waktu itu perempuan dianggap akan menikah. Ketika perempuan itu menikah, maka yang akan menjadi hak miliknya adalah milik suaminya. Mengenai anak-anak Zelafehad ini, ayahnya sudah mati sedangkan mereka belum menikah. Mereka memikirkan kehidupan mereka sebelum menikah.

Masih ada satu orang generasi tua yang belum mati, yaitu Musa. Musa ternyata tidak mendapat pengecualian. Musa pun tidak akan masuk ke tanah Kanaan. Tuhan memerintahkan Musa untuk naik ke gunung Abarim (di dalam Ulangan 34 disebut gunung Nebo). Tuhan menyuruh Musa untuk memandang negeri Kanaan. Setelah itu Musa akan mati, dikumpulkan kepada kaum leluhurnya, sama seperti Harun yang sudah terlebih dulu mati.

Musa tidak diperbolehkan masuk ke tanah Kanaan karena kesalahannya, ketika Musa memukul batu yang seharusnya tidak perlu dipukul. Pada waktu itu Tuhan memerintahkan Musa hanya berbicara kepada batu itu. Peristiwa ini dicatat di dalam Bilangan 20, ketika orang Israel meminta air. Sebelumnya memang ada batu yang harus dipukul oleh Musa. Batu karang itu melambangkan Yesus, yang hanya dipukul (disalibkan) satu kali.

Views: 31

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top