Tidak Mau Masuk Kanaan (Jelajah PL 587)

Bilangan 32:1

Ketika bangsa Israel berputar-putar di padang gurun, tidak banyak hal yang diceritakan selama kurun waktu empat puluh tahun itu. Di Bilangan 25, sudah dikisahkan tentang sensus yang kedua, di tahun ke empat puluh. Sensus ini digunakan untuk menghitung generasi kedua, yaitu anak-anak dari generasi yang keluar dari tanah Mesir. Generasi kedua ini sudah mempersiapkan diri untuk masuk ke tanah Kanaan.

Umat Israel sudah ingin masuk ke tanah Kanaan dari sebelah timur, bukan dari sebelah selatan. Di sebelah timur, tanah Kanaan ini dibatasi oleh sungai Yordan, dengan laut Mati berada di selatan dan danau Galilea berada di utara. Di antara danau Galilea dan laut Mati itu ada sungai Yordan yang membentang dari arah utara ke selatan. Sungai Yordan ini yang menjadi pemisah antara tepi barat dan tepi timur. Israel pada saat itu sedang berkemah di tepi timur, masih di luar Kanaan. Orang Israel sedang berkemah di wilayah orang Amon, orang Moab, dan orang Amori.

Untuk sampai ke wilayah itu, orang Israel sudah mengalahkan beberapa raja. Semua itu sudah dicatat di pasal 21 dan 31. Sebenarnya wilayah tepi timur sudah dikalahkan oleh orang Israel. Sudah ada tanah yang cukup luas, yang dikuasai oleh orang Israel di wilayah itu. Sudah ada suku yang memiliki ternak yang sangat banyak, yaitu suku Ruben dan Gad. Mereka berpikir tanah di situ sudah baik untuk tempat peternakan mereka. Mereka berencana untuk tetap tinggal di wilayah itu dan tidak mau masuk ke tanah Kanaan.

Sebenarnya sikap ini sangat berbahaya, karena mereka berusaha untuk melanggar ketetapan Tuhan. Mereka sudah puas dengan apa yang sudah ada pada mereka, meskipun Tuhan sudah menjanjikan wilayah yang lebih baik. Sebenarnya sikap puas dengan apa yang ada secara materi, itu baik. Di dalam Ibrani 13:5 dikatakan, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

Di dalam 1 Timotius 6:6 dikatakan, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” Tetapi jika Tuhan sudah menjanjikan hal rohani, maka kita tidak boleh puas dengan hal yang biasa-biasa saja. Misalnya, ketika Tuhan menjanjikan kepada orang Kristen yang sudah dilahirkan kembali, bisa memperoleh hidup kekal dan berkemenangan secara rohani di dalam Tuhan. Tetapi ada orang Kristen yang hanya percaya kepada Yesus Kristus saja tanpa mau mengejar kemenangan secara rohani dalam pembangunan kehidupan karakter sehari-hari.

Seperti itulah bani Ruben dan Gad. Mereka merasa tidak perlu lagi menyeberang sungai Yordan dan menduduki tanah Kanaan. Padahal, selama kurang lebih empat ratus tahun mereka dalam perbudakan di Mesir, cita-cita mereka adalah masuk ke tanah Kanaan. Tuhan telah menjanjikan tanah Kanaan itu bagi orang Israel. TIba-tiba mereka sudah merasa puas dengan tepi timur seberang sungai Yordan.

Tanah yang sudah dikalahkan di wilayah itu, seharusnya dikembalikan kepada Tuhan. Tetapi mereka sangat menginginkan tanah itu, karena ternak mereka sangat banyak. Mungkin mereka merasa bahwa wilayah itu cocok untuk peternakan. Ternyata, memiliki banyak harta, belum tentu menguntungkan, ketika hati kita sudah terpikat dengan harta itu melebihi Tuhan.

Views: 14

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top