Tawanan Perang (Jelajah PL 584)

Bilangan 31:4-12

Untuk berperang melawan Midian, diperlukan hanya seribu orang dari setiap suku Israel, sehingga semua berjumlah dua belas ribu orang. Kemungkinan, dua belas suku ini tidak termasuk Lewi, tetapi masuk suku Efraim dan Manasye. Bersama-sama dengan pasukan ini, ada Pinehas, anak imam Eleazar. Pinehas ikut karena dialah yang bersemangat untuk berjuang menjaga kemurnian orang Israel.

Dalam perang itu, Pinehas membawa perkakas tempat kudus dan nafiri-nafiri pemberi tanda semboyan. Ini menandakan bahwa peperangan yang dilakukan bukanlah peperangan duniawi biasa. Peperangan ini tidak bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan atau wilayah tertentu. Peperangan ini menjadi peperangan rohani. Memang orang Lewi tidak ikut berperang, tetapi kemungkinan besar merekalah yang mengangkat serta membawa perkakas tempat kudus itu.

Orang Israel berperang melawan Midian. Mereka mendapatkan kemenangan. Mereka membunuh semua laki-laki orang Midian. Dua belas ribu pasukan Israel ini telah berperang melawan ratusan ribu orang Midian. Ketika mereka mendapatkan kemenangan besar dengan kerugian yang sangat minimal, menandakan bahwa Tuhan sedang menyertai mereka. Israel memang tidak pernah kalah dalam berperang, ketika Tuhan menyertai mereka.

Tercatat bahwa lima raja Midian dibunuh, yakni Ewi, Rekem, Zur, Hur, dan Reba. Ternyata Bileam bin Beor juga dibunuh oleh pasukan Israel dengan pedang. Bileam telah mendapatkan upahnya. Karena itu, di Perjanjian Baru diingatkan supaya orang percaya tidak mengikuti kesesatan Bileam, karena akhirnya mendapatkan hukuman. Bileam memang tidak bisa mengutuk bangsa Israel. Karena itu, ia mencoba berbuat licik untuk mendapatkan harta dari Balak.

Ketika Bileam kembali ke Moab dan hidup bersama dengan orang Midian, akhirnya ia ikut terbunuh dalam perang itu. Salah satu nubuat Bileam tercatat di dalam Bilangan 23:10, “Siapakah yang menghitung debu Yakub dan siapakah yang membilang bondongan-bondongan Israel? Sekiranya aku mati seperti matinya orang-orang jujur dan sekiranya ajalku seperti ajal mereka!” Tetapi karena Bileam mengejar upah dan mencari harta lebih dari kebenaran, akhirnya kematian yang dinubuatkannya itu tidak terlaksana.

Setelah mendapatkan kemenangan besar, sesuai dengan kebiasaan zaman itu, orang Israel menjadikan perempuan-perempuan serta anak-anak Midian menjadi tawanan. Semua hewan, ternak, dan kekayaan mereka juga dijarah. Kota-kota mereka dibakar. Dengan menjadikan perempuan dan anak-anak menjadi tawanan, orang Israel telah berbelas kasihan kepada korban perang itu. Di bawah tawanan orang Israel, maka tawanan itu dipastikan akan mendapatkan perlakuan lebih baik dari pasukan lain.

Kita tidak bisa membayangkan jika suatu wilayah hanya ada perempuan saja dan tidak ada laki-laki dewasa sama sekali. Jika rombongan penjahat datang, keadaan mereka akan lebih mengerikan lagi. Karena itu, lebih baik mereka menjadi tawanan orang Israel. Dengan demikian, mereka bisa diperkenalkan dengan Tuhan yang benar. Mereka juga diperlakukan sesuai dengan standar hukum Taurat. Hukum Taurat juga menjamin hak-hak para tawanan.

Views: 25

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top