Taat Kepada Pemimpin (Jelajah PL 509)

Bilangan 12:4-10

Tuhan mendengar kata-kata Miryam dan Harun. Terkadang ada orang yang sengaja menantang otoritas pemimpin rohani, bukan saling bertatap muka, tetapi berbicara di belakangnya. Mereka menyebarkan gosip dan perkataan yang tidak sedap didengar. Kemungkinan Miryam dan Harun juga berbicara di belakang Musa. Dalam peristiwa ini, Tuhan datang dan mengatasi masalah ini secara langsung. Miryam dan Harun pasti ketakutan ketika Tuhan menyuruh mereka keluar.

Tuhan berkata bahwa memang Ia menyatakan diri kepada orang lain, terutama kepada orang yang memiliki status sebagai nabi. Pernyataan Tuhan kepada para nabi itu biasanya melalui penglihatan dan mimpi. Tetapi bagi Tuhan, Musa sangat spesial. Tuhan berbicara kepada Musa secara langsung, muka dengan muka. Dalam hal ini, tentu Pribadi Yesus Kristus di Perjanjian Lama (Kristofani), yang sedang berbicara secara langsung dengan Musa.

Tidak ada nabi lain di Perjanjian Lama yang seperti Musa, yang berbicara dengan Tuhan, muka dengan muka. Musa sendiri sebenarnya sedang menggambarkan atau mentipologikan Yesus Kristus. Nanti Yesus Kristus akan datang. Di dalam Ulangan 18:18, Tuhan menubuatkan, “Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini: Aku akan menaruf firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.”

Pemberontakan kepada pemimpin merupakan hal yang salah. Di dalam Ibrani 13:17 dikatakan, “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.”

Pemimpin dituntut tanggung jawab oleh Tuhan. Karena itu, pemimpin harus bekerja bagi orang yang ia pimpin. Pemimpin yang Alkitabiah adalah pemimpin yang melayani dan melakukan yang terbaik bagi yang dipimpinnya. Karena itu, umat disuruh untuk menaati para pemimpinnya, supaya menguntungkan mereka. Pemimpin itu bekerja, berjaga-jaga, mengajar serta membangkitkan kedewasaan rohani.

Setelah Tuhan berbicara, akhirnya Miryam kena kusta. Inilah hukuman Tuhan. Sedangkan Harun tidak mendapatkan penyakit kusta ini. Ada beberapa alasan, misalnya bahwa kesalahan ini merupakan kesalahan Miryam. Harun hanya ikut-ikutan saja. Memang Harus memiliki sifat yang mudah dipengaruhi orang lain dan menyerah pada tekanan. Peristiwa yang hampir sama juga terjadi di dalam Keluaran 32, pada kasus penyembahan lembu emas.

Alasan lain, Harun sudah ditetapkan menjadi Imam Besar bagi Tuhan. Jika Imam Besar kena kusta, maka ia tidak akan bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Apalagi Imam Besar juga memiliki kewenangan untuk menetapkan orang masih kena kusta atau sudah sembuh dari penyakit kusta itu. Kita ingat bahwa di Perjanjian Lama, penyakit kusta merupakan tanda kutuk.

Views: 30

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top