Sudut Pandang (Jelajah PL 514)

Bilangan 13:28

Menyambung renungan sebelumnya, kita membandingkan dengan 2 Petrus 3:9, “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” Tuhan belum datang untuk kedua kalinya, karena sedang memberi waktu dan kesempatan, supaya semakin banyak orang berbalik dan bertobat. Tetapi manusia sering menyalahgunakan kesempatan seperti ini.

Mereka bukan bertobat, malah mengejek atau meragukan kedatangan Tuhan. Jika hari ini kita masih ada di dunia ini, berarti kita sedang mendapatkan kesempatan dari Tuhan untuk bertobat atau untuk mengerjakan pertobatan kita. Jika saat ini kita masih mendapatk kasih karunia dari Tuhan, maka ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan. Jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan.

Ketika mereka melihat orang-orang yang ada di Kanaan, mereka sedang memandang situasi tanpa Tuhan. Alkitab mencatat bahwa para pengintai itu melakukan pengintaian selama empat puluh hari (ayat 25). Angka empat puluh merupakan angka khusus yang sering ditulis di dalam Alkitab. Angka ini biasanya dihubungkan dengan pengujian. Jika Tuhan menguji seseorang atau suatu bangsa, maka angka empat puluh digunakan.

Misalnya, Musa di atas gunung Sinai selama empat puluh hari empat puluh malam. Tuhan Yesus berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam, sebelum Ia dicobai oleh Iblis. Bangsa Israel berputar-putar di padang gurun selama empat puluh tahun. Jadi, angka empat puluh seringkali digunakan sebagai periode ujian. Tanpa mereka sadari, para pengintai ini juga sedang diuji oleh Tuhan selama empat puluh hari masa pengintaian. Iblis tentu juga mencobai mereka di masa itu. Ujian dengan pencobaan berbeda motivasi. Ujian dipakai untuk menguatkan, pencobaan dipakai untuk menjatuhkan. Metode yang dipakai, serupa.

Sebagian besar dari para pengintai itu gagal dalam ujian itu, karena mereka memandang situasi tersebut tanpa Tuhan. Hal ini bisa kita bandingkan ketika Yesus mengalami pencobaan dari Iblis. Untuk menghadapi pencobaan itu, Yesus menggunakan firman Tuhan. Pikiran-Nya tidak jauh dari firman Tuhan. Tiga kali Tuhan Yesus mengutip kitab Ulangan, untuk menghadapi Iblis dalam pencobaan. Tuhan Yesus sedang memberi contoh dan cara untuk menang dari pencobaan, yaitu dengan tetap berpegang teguh pada firman Tuhan.

Ketika kita tidak mengikutsertakan Tuhan dalam masalah atau persoalan kita, maka masalah itu akan terlihat besar dan bahkan sepertinya kita tidak bisa menghadapinya. Jika kita menghadapi masalah dari sisi Tuhan, maka Tuhan akan lebih besar daripada masalah itu. Sebaliknya, jika kita menghadapi masalah tetapi dalam posisi jauh dari Tuhan, maka Tuhan yang akan terlihat kecil dan masalah yang akan terlihat lebih besar.

Sudut pandang menjadi penting dalam menghadapi semua situasi. Kita tinggal memilih, memandang semua itu dengan Tuhan atau tanpa Tuhan. Ketika bangsa Israel memandang orang Kanaan tanpa Tuhan, maka mereka menjadi pesimis dan ketakutan.

Views: 28

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top